Asosiasi Sopir Pariwisata Bali

  • parade
  • sunset
  • tree
  • aspaba-bedugung-temple
  • aspaba-rice-terrace
  • aspaba-tanahlot

Archive for the ‘Budaya & Festival’ Category

Sanghyang,Tari Bali Purba

oleh aspaba · Tari Bali

Oleh: Agung Bawantara

Di Bali, saat ini, masih hidup beberapa tarian sakral yang hanya dapat disaksikan pada saat-saat khuusus. Tarian tersebut antara lain tari Sanghyang yang ditarikan dalam rangkaian sebuah upacara suci. Jarang sekali tari macam ini dipertunjukkan sekedar sebagai sebuah tontonan belaka, kecuali ada permintaan khusus dengan syarat tertentu.

Soal tari, di Bali terdapat puluhan jenis tarian. Oleh pakar tari Prof. I Made Bandem, semua tari itu dipilah ke dalam tiga kelompok besar yakni tari Wali(sakral),bebali (dipertunjukan dalam rangkaian upacara), dan balih-balihan (semata-mata untuk hiburan). Nah, tari Sanghyang termasuk ke dalam kelompok tari Wali.

Tari Sanghyang merupakan “purba” dengan gerak dan lagu pengiring yang sangat sederhana. Namun,simbol-simbol dalam kesederhanaan itu mempu membuat penarinya kerauhan (trance) dan bergerak seperti tokoh yang dilakonkan. Misalnya,seperti bidadari, babi hutan, monyet, atau kuda. Tari ini adalah warisan budaya Pra-Hindu yang dimaksudkan sebagai penolak bahaya dengan cara membuka komunikasi spiritual antara manusia dengan mahluk-mahluk gaib untuk menjaga keseimbangan semesta.

Tari Sanghyang dibawakan oleh penari laki-laki maupun perempuan dengan iringan paduan suara yang menyanyikan tembang-tembang pemujaan. Di beberapa daerah, seperti di Sukawati-Gianyar, tari ini juga diiringi dengan Gamelan Palegongan.

Di dalam Tari Sanghyang, ada tiga unsur penting yang wajib hadir yaitu asap/ api, Gending Sanghyang dan medium (orang atau boneka).Penyelenggaraannya melalui tiga tahap penting diawali dengan nusdus yaitu upacara penyucian medium dengan asap/api, kemudian dilanjutkan dengan masolah. Pada tahap ini, penari yang sudah trance mulai menari. Tahap terakhir, ngalinggihang yakni mengembalikan kesadaran medium dan melepas roh yang memasuki dirinya agar kembali ke asalnya.

Sanghyang Jaran

Tari ini ditarikan oleh seorang laki-laki. Penari tersebut mengendarai sebuah kuda-kudaan dari pelepah kelapa. Penari biasanya trance oleh kehadiran roh kuda tunggangan dewa. Keadaan itu terjadi setelah para penynayi pengiring melanunkan gending sanghyang sambil berkeliling dengan mata terpejam. Begitu trance, si penari akan berjalan dan berlari-kecil. Kakinya yang telanjang akan menginjak-injak bara api batok kelapa yang terhampar di tengah arena.

Tari Sanghyang Jaran biasanya digelar pada saat situasi krisis atau saat masyarakat dalam keadaan prihatin. Misalnya, saat mereka terserang wabah penyakit atau kejadian lain yang meresahkan.

Selain Sanghyang Jaran (Kuda), beberapa jenis tari Sanghyang yang hingga kini masih hidup di Bali adalah:Sanghyang Dedari(Bidadari), Sanghyang Deling (Boneka), Sanghyang Sampat (Sapu), Sanghyang Bojog (Monyet), dan Sanghyang Celeng (Babi Hutan).

Foto Sanghyang Jaran: I Nyoman Wija (Radar Bali)

Joged-joged Bali

oleh aspaba · Tari Bali

Joged adalah tari pergaulan yang sangat populer di Bali. Tari ini memiliki pola-pola gerak yang bebas, lincah, dan dinamis. Gerak-gerak dasar tari ini diambil dari Legong maupun Tari Kekebyaran, dan dibawakan secara improvisasi. Joged biasanya dipentaskan untuk perayaan sehabis panen atau pada acara hiburan pada hari-hari penting di Bali.

Tari Joged mempunyai banyak macam, meliputi: Joged Bumbung, Joged Pingitan, Joged Gebyog, Joged Pudengan (Udengan), dan Gandrung. Kecuali Joged Pingitan yang memakai lakon Calonarang, semua pertunjukan Joged selalu ditarikan secara berpasangan laki-perempuan dengan mengundang partisipasi penonton untuk ngibing. Bagian tersebut dinamakan paibing-ibingan. Pada bagian tersebut, penari Joged memilih (nyawat) penonton laki untuk diajak menari bersama di arena pentas.

Sebagai sebuah kesenian rakyat, tari Joged diiringi dengan barungan ngamelan yang didominasi oleh instrumen-instrumen bambu.

Di antara semua jenis Joged yang ada di Bali, Joged Bumbunglah yang paling populer di Bali. Joged yang diiringi grantangan yaitu gamelan tingklik bambu berlaras slendro ini diperkirakan muncul pada tahun 1946 di Bali Utara.

Sumber: “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali” oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia

Barong-Barong Bali

oleh aspaba · Tari Bali

Barong adalah satu di antara begitu banyak ragam seni pertunjukan Bali. Barong merupakan sebuah tarian tradisional Bali yang ditandai dengan topeng dan kostum badan yang dapat dikenakan oleh satu atau dua orang untuk menarikannya. Di Bali ada beberapa jenis barong yakni Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Landung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Lembu, Barong Kedingkling, Barong Kambing, dan Barong Gagombrangan.

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan. Barung ini juga memiliki pebendaharaan gerak tari yang paling lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket merupakan perpaduan bentuk antara singa, macan,sapi dan naga. Badan Barong Ket dihiasi dengan kulit berukiran rumit dan ratusan kaca cermin berukuran kecil. Kaca-kaca cermin itu bagai permata dan tampak berkilauan ketika tertimpa cahaya. Bulu Barong Ket terbuat dari kombinasi perasok (serat daun tanaman sejenis pandan) dan ijuk. Ada pula yang mengganti ijuk dengan bulu burung gagak.

Barong Ket ditarikan oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk atau Juru Bapang. Juru Bapang pertama menarikan bagian kepala, Juru Bapang yang lainnya di bagian ekor. Biasanya Barong Ket ditarikan berpasangan dengan Rangda, yaitu sosok seram yang melambangkan adharma (keburukan). Barong Ket sendiri dalam tarian tersebut melambangkan dharma (kebajikan). Pasangan Barong Ket dan Rangda melambangkan pertempuran abadi andara dua hal yang berlawanan (rwa bhineda) di semesta raya ini. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.

Barong Bangkal adalah barong yang menyerupai babi dewasa. Di Bali, babi dewasa jantan dinamakan bangkal, sedangkan yang betina dinamakan bangkung. Itu sebabnya barong jenis ini disebut juga dengan Barong Bangkung. Biasanya Barong Bangkal dipentaskan dengan cara ngelelawang atau menari dari pintu ke pintu berkeliling desa pada saat perayaan hari raya Galungan-Kuningan. Barong ini ditarikan oleh dua orang penari dengan iringan gamelan batel/tetamburan.

Barong Landung adalah barong yang sosoknya menjulang tinggi. Sosoknya menyerupai manusia dengan tinggi dua kali tingga badan orang dewasa. Sosok laki-lakidinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Konon, barong jenis dibuat untuk mengelabui mahluk-mahluk halus yang menebar bencana.

Masyarakat Bali percaya bahwa mahluk-mahluk halus tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Mecaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang berstana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Saat itu, seorang pendeta sakti menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Rupanya, tipuan ini manjur. Para mahluk halus ketakutan melihat bentuk tiruan bos mereka, lalu menyingkir. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana.

Barong Landung ditarikan oleh seorang. Ada sebuah lubang di bagian perut barong sebagai celah pandangan sang penari. Di beberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang tak hanya sepasang. Barong-barong tersebut diberi peran seperti Mantri (raja), Galuh (permaisuri), Limbur (dayang) dan sebagainya. Musik pengiring tarian Barong Landung adalah gamelan Batel.

Melihat Barong Landung, kamu mungkin teringat dengan Ondel-ondel. Ya, barong ini sangat mirip dengan tarian khas Betawi itu.

Seperti namanya, barong ini menyerupai seekor macan. Jenis barong ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Bali. Pementasan barong ini sama dengan barong bangkal, yakni ngelawang berkeliling desa. Adakalanya pementasan barong ini dilengkapi dengan dramatari semacam Arja (opera tradisional Bali). Barong macan ditarikan oleh dua penari dengan iringan musik gamelan batel.

Barong Kedingkling disebut juga Barong Blasblasan. Ada juga yang menyebutnya barong Nong nong Kling. Secara bentuk, barong jenis ini berbeda jauh dengan barong jenis lainnya. Barung ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh-tokoh dalam barong Kedingkling persis dengan tokoh-tokoh dalam Wayang Wong. Saat menari, cerita yang dibawakannya pun adalah lakon cuplikan dari cerita Ramayana terutama pada adegan perangnya.

Pementasan barong kedingkling ini biasanya dilakukan dengan ngelawang dar rumah- ke rumah berkeliling desa pada perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Pertunjukan Barong Kedingkling diiringi dengan gamelan batel atau babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong). Barong Kedingkling banyak terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung.

Barong Gajah tentu saja menyerupai gajah. Barong ini ditarikan oleh dua orang. Karena barong ini termasuk jenis yang langka dan dikeramatkan, masyarakat Bali pun jarang menjumpai barong jenis ini. Sekali waktu, pada saat-saat khusus, barong ini dipentaskannya secara ngelewang dari pintu ke pintu berkeliling desa dengan iringan gamelan batel atau tetamburan. Barong Gajah terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli.

Barong Asu menyerupai anjing. Sama seperti Barong Gajah, Barong Asu juga termasuk jenis barong yang langka. Barong ini hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.

Kamu termasuk orang yang beruntung jika sempat menyaksikan pementasan barong ini. Barong Brutuk termasuk jenis tarian langka yang ditarikan hanya pada saat-saat khsusus. Barong ini memiliki bentuk yang lebih primitive dibandingkan dengan jenis barong Bali yang lain. Topeng barong ini terbuat dari batok kelapa dan kostumnya terbuat dari keraras atau daun pisang yang sudah kering. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci (para pengiring Ida Ratu Pancering Jagat) yang berstana di Pura Pancering Jagat, Trunyan. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan, yang masing-masing
membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura.

Barong yang ditarikan dengan iringan gamelan Balaganjur atau Babonangan ini hanya terdapat di daerah Trunyan-Kintamani, Bangli. (abe/jjb/dari berbagai sumber)

Jadwal Pementasan Tari Bali

oleh aspaba · Tari Bali

Saat berlibur di Bali dan ingin menikmati pementasan tari Bali, jadwal di bawah ini dapat kamu jadikan acuan untuk menentukan pilihan.

Barong dan Tari Keris
• Arma Museum – Ubud, Jumat 17.30
• Banjar Abasan Singapadu – Gianyar, Setiap hari 09.30-10.30
• Banjar Suwung Kauh – Denpasar, Setiap hari 09.30-10.30
• Depan Pura Padang Kerta – Ubud, Senin 19.00
• Kesiman Stage – Denpasar, Setiap hari 09.30-10.30
• Padang Galak Stage, Setiap Hari 09.30-10.30
• Pura Dalem Ubud – Ubud, Kamis 19.30
• Ubud Water Palace – Ubud, Kamis 19.30
• Sila Candra Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Sahadewa Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Denjalan Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Banjar Abasan Singapadu, setiap hari 09.30 – 10.30

Kecak
• Arma Open Stage – Ubud, Setiap Bulan Purnama, 19.00
• Art Center “Werdhi Budaya” Jl. Nusa Indah – Denpasar Setiap hari 18.30-19.30
• Banjar Bona Kangin – Gianyar Setiap Senin, Rabu & Jumat: 18.00-19.30
• Depan Pura Padang Kerta – Ubud, Selasa 19.30
• Desa Baha Mengwi – Badung, Sesuai Permintaan
• Junjungan Village – Ubud, Senin 19.00
• Padang Tegal – Ubud, Rabu, Sabtu, Minggu 19.00
• Pura Batukaru, Kamis 19.30
• Pura Dalem Taman Kaja – Ubud, Rabu 19.30
• Pura Dalem Ubud – Ubud, Jumat 19.30
• Pura Taman Sari – Ubud, Kamis 19.30
• Pura Uluwatu- Badung, Setiap Hari 18.00-19.00
• Puri Agung Peliatan – Ubud, Kamis 19.30

Tari Legong
• Arma Open Stage – Ubud, Minggu 19.30 (Master Tari Legong Peliatan)
• Balerung Stage – Ubud, Selasa 19.30
• Desa Peliatan – Ubud, Jumat, Sabtu 19.30
• Desa Ubud– Ubud, Senin, Rabu, Kamis, Minggu 19.30 (khusus Minggu: Legong Mahabarata)
• Peliatan Stage, Peliatan- Ubud, Jumat 18.30-19.30
• Pura Dalem Puri – Ubud, Sabtu 19.30
• Pura Desa Kutuh- Ubud , Kamis 19.30
• Pura Taman Sari – Ubud, Minggu 19.30
• Puri Agung Peliatan – Ubud, Setiap Minggu 19.30-21.00
• Puri Kaleran Peliatan – Ubud, Selasa 19.30
• Puri Saren-Ubud, Setiap Minggu 19.30-21.00
• Taman Sari Stage – Ubud, Rabu 19.30

Sendratari Arjuna Tapa
Jaba Pura Desa Kutuh Ubud, Senin 19.30

Tari Ciwa Ratri
Pura Dalem, Puri Ubud, Senin 19.30

Ramayana Ballet
Ubud Palace – Ubud, Selasa 19.30

Wayang Kulit
• Monkey Forest – Ubud, Selasa 20.00
• Oka Kartini Desa Tebesaya, Peliatan-Ubud, Rabu, Jumat, Minggu 20.00
• Puri Kaleran Peliatan, Sabtu 19.30

Tari Topeng
Arma Museum, Rabu 19.00
Penjor Restaurant – Sanur, Setiap Sabtu 20.15

Tari Genjekan
Banjar Sangeh – Badung, Sesuai Permintaan

Tari Kodok
Pura Padang Kerta – Ubud, Rabu 19.00; Sabtu 19.30

Jegog
Pura Dalem Ubud, Rabu 19.00
Bentuyung Village – Ubud, Jumat, Minggu 19.00

Tari Calonarang
Desa Mawang – Ubud, Kamis, Sabtu 19.00

Tari Gabor
Ubud Kelod, Ubud, Setiap Kamis 19.30

Janger
Ubud Water Palace – Ubud, Minggu 19.30
Penjor Restaurant – Sanur, Jumat 20.15

Tari Tektekan (Puri Night: Tari dan Santap Malam Tradisional)
Puri Anyar Kerambitan Tabanan, Sesuai Permintaan

Leko & Drama Janger
Puri Anyar Kerambitan Tabanan, Sesuai Permintaan

Drama Tari Bimanyu
Panca Arta, Ubud, Setiap Kamis 20.00

Mahabaratha
Br.Teges- Peliatan, Selasa 18.30-20.00

Tari Raja Pala
Ubud Kelod – Ubud, Selasa 19.30-20.00

Tari Calonarang
Hotel Menara Jln. Raya Ubud – Gianyar (0366-977080), Jumat 20.00

Ramayana
Ubud Kelod, Ubud, Setiap Rabu 1930-21.00

Tari Kodok
Penjor Restaurant – Sanur, Setiap Minggu 19.00

Parwa Ramayana
Hotel Menara Jln. Raya Ubud – Gianyar (0366-977080), Selasa, Rabu 19.00
Br. Buni Kuta, Senin, Kamis 20.00
Ubud Kelod – Ubud, Rabu 19.30

Joged Bungbung
Penjor Restaurant Sanur, Rabu 20.15

Drama Tari Raja Pala
Ubud Kelod-Ubud, Selasa 19.30 – 20.00

Tari Bali

oleh aspaba · Tari Bali

Masyarakat Bali tidak bisa dipisahkan dengan tarian. Hampir setiap kegiatan keagamaan, selalu disertai tarian. Bagi orang Bali, tarian adalah persembahan sebagaimana mereka mempersembahkan sesajen.

Secara garis besar, tari Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu tari wali (tari sakral), tari bebali (tari pertunjukan untuk upacara) dan tari balih-balihan (tari untuk hiburan)

Yang tergolong tari wali antara lain Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede. Yang tergolong bebali antara lain Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong. Sedangkan tari balih-balihan antara lain Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari moderen lainnya.

Tari legong
Tari Legong adalah sebuah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks. Gerakan-gerakan tersebut terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari tari gambuh. Kata Legong berasal dari kata leg yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai.

Dalam perkembangannya, legong berkembang menjadi legong kraton. Tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condong sebagai pembuka tarian. Dalam situasi lain, tari legong dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari lgong ini adalah pemakaian kipas para penarinya.

Tari barong
Barong adalah karakter dalam mitologi Bali. Ia merupakan raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan yang merupakan musuh keburukan yang simbolkan dengan Rangda.

Barong yang paling popular adalah barong ket yang bentuknya seperti singa. Barong ini berasal dari Gianyar, daerah di mana berbagai kesenian Bali berpusat. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.

Tari kecak
Tari ini diciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak dan pelukis Jerman Walter Spies. Tari ini merupakan mengembangan tari Sanghyang (sakral) yang diberi muatan kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Sebagian besar penari Kecak adalah laki-laki. Para penari duduk melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” sambil mengangkat kedua lengannya. Ini pasukan kera yang membantu Rama mengalahkan Rahwana yang menculik istrinya, Dewi Sinta.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rhama, Shinta, Rahwana, Hanoman, Jatayu, dan tentu saja Rahwana si durjana.

Tari oleg tambulilingan
Tari Oleg Tambulilingan adalah tarian yang mengisahkan seorang putri yang sedang bersolek mempersiapkan diri menanti kedatangan kekasih. Tari ini mengumpamakan sepasang kekasih tersebut sebagai pasangan sekuntum bunga dan seekor kumbang.

Seperti biasa penari wanita Bali, maka pakaian yang dikenakan adalah yang U-can-C, alias keliatan ketiak dan dan bahunya. Ditambah lenggang-lenggok dan kerlingan matanya yang menantang dengan sedikit sunggingan senyum.

Lamak, Simbol Pijakan Menuju Kesejatian

oleh aspaba · Upacara Bali

Oleh : Agung Bawantara

Lamak adalah semacam taplak dari daun enau yang dirajut dengan lidi bambu. Lamak ditempatkan di ruang-ruang kecil pada bangunan-bangunan Pura di Bali yang dinamakan dengan palinggih sebagai alas untuk meletakkan bebanten (sajian persembahan). Dalam Bahasa Kawi (Jawa Kuno), kata lamak memang berarti alas. Penggunaan lamak sebagai alas sesajen umumnya pada hari-hari besar atau upacara-upacara penting Hindu di Bali. Selengkapnya »

Kehidupan Bahari di Sanur Village Festival 2009

oleh aspaba · Berita Festival

Pertengahan Agustus nanti, Sanur bakal marak dengan berbagai kegiatan menarik. Selama lima hari, dari tanggal 12 hingga tanggal 16 bulan itu, di kawasan wisata di Kota Denpasar tersebut akan digelar Sanur Village Festival, sebuah acara tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Pembangunan Sanur. Tahun ini perhelatan kebanggaan masyarakat Sanur yang akan digelar di Pantai Mertasari ini mengusung tema “Marine Life” (Kehidupan Bahari). Selengkapnya »

Tari Bali

oleh aspaba · Tari Bali

Masyarakat Bali tidak bisa dipisahkan dengan tarian. Hampir setiap kegiatan keagamaan, selalu disertai tarian. Bagi orang Bali, tarian adalah persembahan sebagaimana mereka mempersembahkan sesajen.

Secara garis besar, tari Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu tari wali (tari sakral), tari bebali (tari pertunjukan untuk upacara) dan tari balih-balihan (tari untuk hiburan)

Yang tergolong tari wali antara lain Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede. Yang tergolong bebali antara lain Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong. Sedangkan tari balih-balihan antara lain Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari moderen lainnya. Selengkapnya »