Asosiasi Sopir Pariwisata Bali

  • parade
  • sunset
  • tree
  • aspaba-bedugung-temple
  • aspaba-rice-terrace
  • aspaba-tanahlot

Archive for the ‘Informasi Wisata’ Category

Menikmati Sun Rise di Bedugul

oleh aspaba · Tabanan

Mungkin karena kendala jarak, tak banyak pelancong yang datang ke Bedugul untuk menikmati pemandangan indah dari tepian Danau Beratan saat matahari terbit. Padahal, pemandangan alam di sekitar danau pada saat matahari menyembul dari balik bukit, begitu memesona. Selama ini, pelancong memadati obyek wisata Bedugul pada siang hingga sore hari.Mereka biasanya datang untuk menikmati pemandangan dari tepian danau atau dari tengah danau dengan menumpang boat, berpose di pinggir danau dengan latar belakang pura Ulun Danu yang anggun, atau menyempatkan diri memancing ikan di dermaga-dermaga yang tersedia.

Hanya sedikit Pelancong yang mengunjungi Danau Beratan ini sebelum pukul 06.00 Wita untuk menyaksikan keindahan danau saat matahari terbit. Memang, untuk mencapai obyek wisata ini sepagi itu, jika menginap di Kuta, kamu harus sudah berangkat menuju lokasi pada pukul 03.45 Wita, sebab perjalanan dari Kuta ke Bedugul memakan waktu antara satu hingga satu setengah jam. Sedangkan matahari terbit pada pukul 05.40 Wita.

Bagi kamu, yang ngebet ingin menyaksikan pemandangan indah matahari terbit dari tepian Danau Beratan, cara mudah yang bisa kamu tempuh adalah dengan menginap di home stay, hotel atau resort yang banyak terdapat di wilayah itu. Harga home stay berkisar antara Rp. 75 ribu hingga Rp.200 ribu. Untuk hotel dan resort, berkisar antara Rp. 250 ribu hingga Rp. 900 ribu. (abe/jjb)

Pura Gunung Raung, Dari Sebuah Pohon Bercahaya

oleh aspaba · Gianyar

Oleh: Agung Bawantara

Ini salah satu pura tertua di Bali. Letaknya di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini erat sekali kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandya, seorang resi dari Pasraman Gunung Raung, Jawa Timur, ke Bali untuk menyebarkan ajaran Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) yang kini dikenal dengan sebutan Hindu Dharma.

Setelah terlebih dahulu mengawali langkahnya dengan mendirikan Pura Basukian di Besakih, selanjutnya Rsi Markandya membangun pasraman (semacam pesantrian) di Taro. Pasraman inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pura Gunung Raung di Desa Taro tersebut.

Di desa Taro, Pura Gunung Raung ini terletak persis di tengah-tengah desa dan menjadi pembatas Banjar Taro Kaja (utara) dan Banjar Taro Kelod (selatan). Ini adalah sesuatu yang unik, sebab pada umumnya letak pura di Desa Kuno di Bali adalah di daerah hulu dan di daerah hilir desa.

Tentang perjalanan Rsi Markandya pada abad ke-8 itu, menurut lontar Bali Tatwa, mulanya Sang Resi berasrama di Damalung, Jawa Timur. Selanjutnya, beliau mengadakan tirthayatra (perjalanan suci) ke arah timur hingga ke Gunung Hyang (Dieng). Tak ada tempat ideal yang ia temukan sebagai pasraman dalam perjalanan suci tersebut. Resi Markandya pun melanjutkan perjalanannya ke arah timur hingga tiba di Gunung Raung, Jawa Timur. Di tempat inilah beliau membangun asrama dan melakukan pertapaan.

Suatu hari, dalam samadinya, beliau mendapatkan petunjuk agar meneruskan perjalanan ke arah timur lagi, yakni ke Pulau Bali. Petunjuk itu pun dilaksanakannya. Diiringi 800 pengikut, beliau melanjutkan perjalanan sucinya ke Bali.

Tiba di sebuah tempat yang berhutan lebat di lambung Gunung Agung, Rsi Markandya berkemah dan membuka areal pertanian. Namun, para pengikut beliau terkena wabah penyakit hingga sebagian di antaranya meninggal dunia. Hanya sekitar 400 pengikut saja yang tersisa.

Melihat keadaan itu, Resi Markandya kembali ke Jawa Timur untuk bersamadi dan memohon petunjuk. Tuhan yang menampakkan dirinya sebagai Sang Hyang Pasupati kemudian hadir dan memberi tahu Sang Rsi bahwa kesalahannya adalah tidak melakukan ritual dan mempersembahkan sesaji untuk mohon izin saat hendak merambah hutan. Mendapat keterangan demikian, Resi Markandya kembali menuju Bali dan terus menuju Gunung Agung (Ukir Raja). Saat itu beliau diring oleh para pengikut yang disebut Wong Age.

Setiba di Gunung Agung, Rsi Markandya mengadakan upacara dengan menanam Panca Datu yaitu lima jenis logam (emas, perak, besi, perunggu, timah) yang merupakan simbolis dari kekuatan alam semesta. Di tempat pelaksanaan ritual dan pemendaman panca datu tersebut kemudian didirikan pura yang dinamakan Pura Basukian yang menjadi cikap bakal berdirinya kompleks Pura Besakih.

Setelah itu memendam panca datu dan melakukan ritual lainnya, barulah kemudian Sang Rsi memerintahkan pengikutnya untuk membuka lahan pertanian menurun hingga ke Gunung Lebah di Ubud. Sampai di sebuah lahan yang cukup strategis, beliau mengadakan penataan seperti pembagian lahan untuk perumahan dan pertaian untuk para pengikutnya. Desa itu kemudian dinamakan Desa Puakan.

Selanjutnya, Rsi Markadya juga memerintahkan sebagian pengikutnya membuka lahan hingga ke sebuah tempat yang subur yang dinamakan Desa Sarwa Ada. Di sana beliau juga melakukan penataan dan pembagian lahan bagi para pengikutnya. Dan, setelah semua pengikutnya mendapatkan lahan untuk melanjutkan dan mengembangkan kehidupannya, beliau kemudian membangun sebuah pasraman yang serupa dengan pasramannya di Gunung Raung, Jawa Timur. Entah kenapa, pada saat itu kembali Resi Markandya mendapatkan banyak gangguan dan kesulitan.

Seperti sebelumnya, Rsi Markandya kembali ke Jawa Timur dan mengadakan samadi. Tak ada petunjuk apa pun yang beliau peroleh selain perintah untuk kembali melakukan samadi di pasraman beliau di Bali. Ketika petunjuk itu beliau turuti, Rsi Markandya melihat seberkas sinar cemerlang memancar dari sebuah tempat. Ketika didekatinya, sinar tersebut berasal dari sebatang pohon. Di pokok pohon yang menyala itulah Rsi Markandya mendirikan pura yang sekarang dinamakan Pura Gunung Raung.

Pura dengan pohon yang bersinar tersebut menjadi pusat desa. Karenanya, desa tersebut dinamakan Desa Taro. Taro berasal dari kata ”taru” yang berarti pohon. Sedangkan nama pura dan pasramannya sama dengan nama sebelumnya yakni Gunung Raung.

Sebelumnya, di Desa Taro, hidup sapi putih yang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai keturunan Lembu Nandini (Tunggangan Dewa Siwa). Sapi putih itu dikeramatkan oleh penduduk di Desa Taro. Dang Hyang Markandya adalah seorang resi yang menganut paham Waisnawa, namun dengan membiarkan masyarakat tetap mengeramatkan sapi putih itu, menunjukan bahwan beliau menghormati keberadaan paham Siwaisme yang sudah sempat tumbuh dan berkembang di Taro.

sumber: I Ketut Gobyah (http://www.balipost.co.id) dan beberapa sumber lainnya.

Lagi, Setelah 380 Tahun Tidak Diselenggarakan di Taro

oleh aspaba · Gianyar

Oleh: Agung Bawantara

Upacara ini berlangsung setiap sepuluh tahun sekali. Namanya Panca Bali Krama. Yang kerap diberitakan, di Bali, upacara ini diselenggarakan di Pura Agung Besakih (Karangasem) dan Pura Agung Ulun Danu Batur (Bangli). Namun kali ini, Panca Bali Krama diselenggarakan di Pura Agung Gunung Raung, Taro, Tegallalang, Gianyar. Rangkaian upacara ini berlangsung selama hampir sebulan penuh. Diawali dengan prosesi nunas tirta (mohon air suci) di tiga gunung di Jawa Timur yakni Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Raung (9/3), Melasti ke pantai Purnama Sukawati, Gianyar (13/3), Tawur Agung (20/3), Pucak Karya atau upacara puncak (23/3) hingga Nyineb Karya atau penutupan upacara pada Rabu, 4 April 2011.

Tentang Pura Gunung Raung, ini adalah pura yang dibangun oleh Rsi Markandya pendiri ashram di Damalung, Jawa Timur, yang kemudian datang ke Bali pada abad ke-8 untuk menyebarkan ajaran Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) yang kini dikenal dengan sebutan Hindu Dharma.

Setelah mengawali langkahnya dengan mendirikan Pura Basukian di Besakih, Rsi Markandya membangun pasraman (semacam pesantrian) di Taro. Pasraman inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Pura Gunung Raung di Desa Taro tersebut.

Di desa Taro, Pura Gunung Raung ini terletak persis di tengah-tengah desa dan menjadi pembatas Banjar Taro Kaja (utara) dan Banjar Taro Kelod (selatan). Ini adalah sesuatu yang unik, sebab pada umumnya letak pura di Desa Kuno di Bali adalah di daerah hulu dan di daerah hilir desa. Riwayat perjalanan Sang Rsi hingga mendirikan Pura Gunung Raung ini tercatat dalam lontar Bali Tatwa yang sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dipadati Umat

Selama sebulan, setiap hari ratusan umat Hindu dari seluruh Bali datang untuk bersembahyang. Ada yang datang pagi hari bersamaan dengan upacara Penganyar yang diselenggarakan setiap pagi, ada pula yang datang pada siang, sore bahkan malam hari.

Pada Pucak Karya atau upacara puncak yang digelar pada Rabu (23/3) yang lalu, prosesi upacara dan persembahyangan dipimpin oleh lima sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Putra Tembau (Griya Gede Aan), Ida Pedanda Gede Putra Bajing (Griya Tegal Jingga Denpasar), Ida Pedanda Gede Jelantik Karang (Griya Buda Keling, Karangasem), Ida Pedanda Made Gunung (Blahbatuh), dan Ida Pedanda Nyoman Jelantik Dwija (Griya Buda Keling, Karangasem).

Sebelum upacara penutupan pada 3 April 2011 yang ditandai dengan prosesi Rsi Bujana dan Nyineb Ida Bhatara, pada tanggal 30 Maret diselenggarakan beberapa upacara terkait yakni Nyenuk, Nangun Ayu, dan Pengusaban ring Bale Agung. Sedangkan pada tanggal 10 April akan diselenggarakan upacara Nyegara Gunung sebagai rangkaian akhir dari upacara Panca Bali Krama.

Di Pura Gunung Raung Taro, terakhir kali upacara serupa diselenggarakan 380 tahun yang lalu. Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi mengapa upacara ini begitu lama tidak diselenggarakan di pura tersebut.

Catatan: Foto-foto karya I Made Widnyana Sudibia

Anjungan Air Minum Otomatis di Renon

oleh aspaba · Denpasar

Oleh: Maria Ekaristi

Kawasan wisata dan olahraga lapangan Renon kini dilengkapi dengan Anjungan Air Minum Otomatis (AMO). Sarana tersebut memungkinkan para pelancong yang datang untuk menikmati keindahan Monumen Bajra Sandhi atau masyarakat umum yang datang untuk berolahraga dapat menikmati air minum sehat secara gratis.

Sarana ini disediakan oleh Pemerintah Kota Denpasar sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang ramai datang berolahraga ataupun beranjangsana di kawasan tersebut. Mengenai kualitasnya, menurut Sekretaris Kota denpasar A.A. Rai Iswara AMO ini sudah melalui tujuh proses pemurnian dan menggunakan teknologi Ultra Filtrasi serta Ultra Violet untuk proses sterilisasi.

“Dengan demikian, saya menjamin air minum ini sehat dan aman untuk dikonsumsi mayarakat”, ujarnya.

Selain di lapangan Renon, Pemkot juga telah memasang dua AMO di pantai Segara Ayu dan di lapangan Puputan Badung. Namun satu di antara kedua AMO tersebut telah rusak akibat kurang perawatan dan ulah tangan jahil. Meski begitu Pemkot Denpasar tetap berencana akan menambah lagi sarana serupa di beberapa titik strategis di kota Denpasar.

Kartun Wajah Sebagai Oleh-oleh

oleh aspaba · Denpasar

Oleh: Agung Bawantara

Banyak ragam oleh-oleh yang bisa dibawa pulang selepas liburan di Bali. Ada benda kerajinan, aksesoris, fesyen, penganan, buah olahan, minuman atau T-Shirt. Tinggal masuk ke toko-toko kerajinan di sekitar tempat wisata atau di pusat oleh-oleh, semua bisa Anda dapatkan. Di luar itu, ada juga jenis oleh-oleh lain yang menarik, yakni kartun wajah. Cara mendapatkannya, bisa langsung digambar di depan kartunisnya, bisa juga hanya menyerahkan foto. Beri arahan kartunisnya untuk menambahkan nuansa tertentu pada foto Anda, selang sehari Anda langsung mendapatkan hasil yang Anda ingini.

Itu kartun untuk diri sendiri. Bagaimana jika kartun itu untuk oleh-oleh? Sama saja. Serahkan saja foto teman atau kerabat yang akan anda oleh-olehi, sang kartunis akan mengolah foto tersebut. Agar menarik, Anda bisa meminta foto tersebut diberi latar belakang Bali atau nuansa tertentu yang Anda sukai.

Di Bali, tempat untuk membuat foto kartun tersebut ada beberapa, di antaranya di Bogbog, Jangkrik85 dan Putu Ebo Illustration. Bogbog bermarkas di Jl. Veteran No. 39 A Denpasar. Di sana anda dapat membuat kartun wajah dengan tarif Rp 300 ribu. Jika ingin menambahkan wajah lain, Anda diminta biaya tambahan sebesar 50 persen dari tarif. Untuk hasil yang anda inginkan anda tinggal menyantumkan apakah gambar yang anda ingini sedang melakukan hobi, sesuai pekerjaan, mengenakan kostum tertentu, pada event tertentu, dengan latar belakang tertentu atau dikosongkan untuk tandatangan teman-teman.

Jangkrik85 juga demikian. Temui petugasnya di outlet mereka dan buat pesanan. Oulet mereka tersebar di Sunset Road, GWK, Central Parkir Kuta, Carrefour Bali, Centro Bali, Hardy’s, Plaza Bali, dan lain-lain. Begitu pula Putu Ebo Illustration. Anda tinggal mendatanginya dan mengajukan pesanan. Markasnya, di Jl. Cekomari Perum seroja Permai Blok III/23 Denpasar.

Khusus untuk Putu Ebo Illustration, jalan-jalan Bali memiliki harga khusus. Ia yang bisanya membandrol kartunnya seharga Rp 300 ribu, memberikan harga menarik bagi pembaca jalan-jalan bali yakni sebesar Rp 200. Hasilnya berupa file .jpg yang akan dikirimkan ke e-mail Anda. Alamat pesanan ke ekaristi@gmail.com.

Contoh karya Putu Ebo Illustration

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Batik Bali, Perkawinan Motif “Dalam” dan “Luar”

oleh aspaba · Denpasar

 

 

 

 

 

Memang masih relatif baru, namun perkambangan industri batik di Bali begitu pesat. Barangkali karena Bali menyimpan banyak potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir. Dari yang berharga murah hingga yang selangit. Sejauh ini, harga pasaran rata-rata batik tulis yang beredar di Bali Bali yang berkualitas bagus berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta. Tingginya harga tersebut karena batik-batik tersebut dibuat dari kain bermutu dan digambar langsung dengan tangan serta menggunakan bahan pewarna alami seperti yang dibuat oleh Ida Ayu Pidada (dengan merek “Batik Wong Bali”) atau oleh A.A. Inten Trisna Manuambari (dengan merek “Diamanta”).
Motif pada batik tulis meskipun polanya sama tapi bentuknya tidak pernah sama persis (asimetris). Ada bagian yang lebih kecil atau lebih besar dari gambar yang lain.
Aksen dalam setiap gambar tidak sama besarnya
Motif batik tulis asli biasanya memiliki aroma yang khas, warna yang digunakan berasal dari kulit-kulit kayu, dan bahan alami lainnnya.
Kain Mori yang dipakai biasanya lebih berat dibanding mori untuk jenis batik lainnya.

TEMPAT MEMBELI BATIK BALI:

Diamanta Puri Kebaya & Batik
Jalan Merdeka, Renon, Denpasar

Batik Galuh
Jln Raya Batu Bulan Gianyar – Bali
Telp. (0361) 298304 – Fax. (0361) 299486

Pithecan Thropus
Jl. Legian, Kuta

Ida Ayu Pidada
http://batikwongbali.blogspot.com

From Bali With Oblong

oleh aspaba · Denpasar

Oleh-oleh kerap bikin pening saat berlibur. Juga ketika berlibur di Bali. Namun kalau di Bali, peningnya bukan lantaran susah mencari buah tangan yang hendak di bawa pulang, melainkan justeru karena begitu banyaknya pilihan. Apalagi jika waktu kunjungan terbatas sementara orang yang harus diberi oleh-oleh cukup banyak (dan dengan selera yang beragam). Untuk situasi seperti itu, satu di antara beberapa pilihan praktis adalah mendatangi gerai kaos oblong untuk membeli kaos-kaos berdesain khas Bali. Barang jenis ini bisa dipakai oleh siapa dan dari kalangan mana saja. Di Bali, gerai-gerai kaos oblong yang sudah terjamin kualitas produk dan desainnya antara lain: Jogger, Bog-bog, Jangkrik, Lebah T-Shirt, Krisna.

Jogger terletak di Jalan Raya Tuban dengan ruang pajang yang cukup luas. Tapi tempat ini bukan sekadar gerai kaos oblong. Ia adalah sebuah produsen kaos dengan desain unik yang menampilkan kata-kata jenaka. Karena itu, Jogger menyebut dirinya sebagai pabrik kata-kata.

Ada ratusan desain dengan kata-kata lucu dan konyol bisa kamu pilih di sini. Sebut saja misalnya: “Jelek bagi Anda, Belum tentu jelek bagi Andi”, “Kalau anda suka Jogger berarti anda waras, tapi kalau anda tidak suka Jogger maka anda lebih waras”; “Every day is Sunday in Bali”; “Bali bagus sejak dulu kala , Jogger jelek sejak 1980”.

Selain Jogger, kamu bisa juga mengunjungi Jangkrik85 Bali, sebuah produsen kaos dengan tag line : “Pabrik Kaos Kartun dan Karikatur”. Di Jangkrik85 Bali kamu dapat menemukan kaos-kaos dengan gambar kartun yang lucu dengam karakter khas Bali. Tidak seperti Jogger yang tak membuka cabang di mana pun, Jangkrik 85 mempunyai beberapa outlet yakni di Central Parkir Kuta, Sunset Road, Ubud, Sanur, dan Centro Cartoon Corner. Di Jangkrik85 Bali, selain melihat-lihat produk yang dipajang, pengunjung dipersilahkan untuk menyaksikan proses produksi di “bengkel jangkrik” yang terdapat di luar gerai. Di situ kamu bisa menyaksikan langsung proses produksi kaos Jangkrik85 Bali dari sejak pembuatan desain hingga pencetakan.

Sebagai bentuk kebanggaan terhadap kartun, Jangrik85 Bali mendirikan Museum Kartun Karikatur Indonesia, sebuah museum kartun pertama di Asia Tenggara.

Lain Jangkrik85 Bali, lain pula Bog-Bog Bali Cartooon. Sekalipun keduanya sama-sama mengusung kartun sebagai andalan produk mereka. Kalau karakter kartun milik Jangkrik85 Bali melulu mengangkat kejenakaan, Bog-Bog mengimbuhi rasa humor tersebut dengan pesan-pesan budaya dan lingkungan. Maklum, Bog-Bog merupakan markas tempat berkumpulnya para kartunis Bali yang peduli terhadap lingkungan dan budaya Bali. Komunitas kartunis ini dimotori oleh Jango Pramartha, Presiden Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti), yang getol memunculkan bibit kartunis Bali melalui majalah khusus kartun yang bernama Bog-Bog pula. Cece Riberu yang menjadi tulang punggung Jangkrik85 Bali pun adalah “alumni” majalah yang mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai majalah kartun pertama Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia ini.

Kata “bog-bog” dalam bahasa Bali berarti bohong. Dalam bahasa Eropa Timur, kata itu berarti Tuhan. Tapi dalam bahasa Inggris slank, kata itu sama dengan toilet. Sedangkan dalam bahasa Australia slank berarti lumpur.

Gerai kaos Bog-Bog terletak di jalan Veteran No. 39 A Denpasar. Sekitar 700 meter dari patung Catur Muka yang merupakan titik nol kilometer kota Denpasar.

Selain tiga di atas, masih ada dua gerai/produsen kaos berdesain khas Bali yakni Krisna dan Lebah T-shirt. Krisna, serupa dengan Jangkrik85 Bali. Ia mengeksplorasi kejenakaan dalam karakter khas Balinya. Sedangkan Lebah T-Shirt mengandalkan ketajaman kritik sosialnya. Desain kaos keluaran Lebah T-Shirt misalnya berupa cover majalah Playboy dengan pesan mengkritisi keganjenan gerakan anti pornografi di Indonesia.

Outlet Krisna terletak di Jalan Nusa Indah dan jalan Nusa Kambangan, Denpasar. Sedangkan gerai Lebah T-Shirt terletak di Centro Discovery Shopping Mall dan Bandara Ngurah Rai.

Di luar perbedaan dari semua gerai/produsen kaos oblong khas Bali di atas, ada kesamaan di antara mereka: desain mereka tak hanya dipajang di kaos, tetapi juga di mug, gantungan kunci, pin, bros, sandal jepit, dan banyak lagi.

Sea Walker

oleh aspaba · Nusa Dua & Tanjung Benoa

Pernah jalan-jalan di dasar laut seperti berjalan di darat? Coba, deh, sea walker. Di Indonesia wahana ini cuma ada di Bali. Selama berjalan di dasar laut, hanya kepala kamu saja yang dilindungi dengan helm khusus kedap air. Di dalam helm itu terdapat selang oksigen yang terhubung ke pangkalan di atas sana.

Melalui wahana ini selama 15 menit kamu bisa bermain-main dengan ikan atau binatang laut lainnya. Agar tidak kagok, tentu saja kamu diberi pelatihan kilat terlebih dahulu sebelum nyemplung ke dasar lat.

Jadi, setelah beres melakukan registrasi, menandatangani form asuransi, dan melakukan pembayaran, kamu dipersilahkan mengganti pakaian renang. Setelah itu seorang instruktur akan mendemokan cara menyelam ala Sea Walker. Beberapa saat kemudian para under water guide akan memberimu jaket keselamatan dan sepasang sepatu khusus untuk berjalan di dasar laut.

Selanjutnya, dengan speadboat kamu akan dibawa ke sebuah tongkang khusus yang letaknya sekitar 500 meter dari tepi pantai. Sebelum turun ke dasar laut, kita diberi sebuah helm khusus untuk dikenakan. Bentuk hlem ini mirip dengan helm yang kekenakan astronot di luar angkasa.

Setelah siap, bersamaan dengan peserta lainnya kamu dibimbing untuk nyemplung ke dalam laut. Di dasar laut, dua orang underwater guide terus memandu kamu. Biasanya kamu akan diberi sebuah tongkat stainless panjang sebagai alat agar kamu tetap bisa bergandengan satu dengan yang lainnya.

Selanjutnya, kamu bisa berkenalan dengan ikan-kan dan berpose bersama mereka. Kamera digital khusus bawah air selalu disiapkan pengelola untuk mengabadikan momen-momen seperti itu.

Penting!
Kalau kamu memiliki masalah jantung, paru-paru, dalam perawatan, hamil, atau asma, sebaiknya jangan melakukan rekreasi ini.

Lokasi
Sanur, Tanjung Benoa

Ongkos
Harga Untuk pelancong domestik dikenakan bayaran sekitar Rp 400 ribu-Rp 600 ribu per 15 menit.

Kayaking

oleh aspaba · Nusa Dua & Tanjung Benoa

Kayaking adalah olahraga air yang mengasyikkan. Permainan ini menggunakan perahu/kayak dan digerakkan dengan dayung. Permainan ini dapat kamu lakukan di sungai, danau, atau laut.

Ada dua macam kayuhan dalam kayaking yaitu dayung maju dan dayung mundur. Jika menginginkan perahu bergerak ke depan, gerakkanlah dayung ke arah belakang. Sebaliknya, jika ingin perahu mundur atau berhenti, gerakkanlah dayung ke arah depan.

Jika ingin berbelok ke kanan, dayung maju di sisi kiri. Begitu sebaliknya jika ingin berbelok ke kiri.

Di Bali, ada tiga jenis kayak disewakan untuk penggemar permainan ini. Ada yang untuk sendiri, ada yang untuk pasangan (couple), ada pula yang untuk bertiga (threesome).

Keasyikan berkayak adalah kamu dapat menikmati suasana tepian pantai atau danau dengan santai. Ritmenya dapat kamu tentukan sendiri. Sementara jika kegiatan ini kamu lakukan di sungai berarus deras, kamu akan mendapat sensasi yang hebat dalam sebuah petualangan yang mengasyikkan.

Lokasi
• Pantai: Sanur, Tanjung Benoa, Lovina
• Danau: Batur (bedugul), Tamblingan
• Sungai: Ayung

Biaya
Tak terlalu mahal biaya yang harus kamu keluarkan untuk dapat berkayak. Untuk menyewa kayak di pantai atau pun di danau, kamu hanya perlu mengeluarkan tak lebih dari Rp 50 ribu. Kecuali kalau melakukannya di sungai Ayung, kamu harus membayar ongkos sebesar US$ 66 per orang. Harga tersebut sudah termasuk penjemputan, perlengkapan keselamatan, shower dengan air panas, ruang ganti, handuk, dan makan siang secara prasmanan (buffet).

Kapal Selam

oleh aspaba · Nusa Dua & Tanjung Benoa

Menyelam bukanlah satu-satunya cara untuk melihat keindahan bawah laut Bali. Bagi kamu yang ingin melihat keindahan pemandangan bawah laut tapi tidak berani menyelam, bisa ikut dalam wisata kapal selam. Dengan wisata ini selama 45 menit kamu dapat melihat keindahan pemandangan di bawah laut tropis, aneka ragam ikan hias, aneka terumbu dan biota laut lainnya.

Hingga saat ini belum banyak tersedia layanan wisata ini. Satu di antara yang sedikit itu adalah Odyssey Submarine, kapal selam dengan kapasitas 36 penumpang yang dibuat khusus untuk keperluan wisata. Kamu dapat menemukannya di Labuhan Amuk, yaitu pantai yang letaknya di antara Kabupeten Klungkung dan Karangasem. Kira-kira 1 jam 45 menit dari Kuta.

Di dalam kapal selam yang bergerak pada kedalaman 35 meter di bawah permukaan laut ini kamu dapat mengabadikan pemandangan menakjubkan yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya.

Biaya
Untuk bertualang selama 45 menit bersama Odyssey Submarine kamu dikenai biaya sekitar Rp 500 ribu. Kalau ngajak adik berumur 5-11 tahun, mereka akan dikenai Rp 360 ribu per orang. Keluarga dengan dua orang dewasa dan dua orang anak dikenai Rp 1.555.000. semua itu adalah harga untuk wisatawan domestik. Kalau kamu ngajak teman bule, harganya beda, beib!

Harga tersebut sudah termasuk transfer hotel (penjemputan dan pengantaran), welcome drink, makan siang BBQ, minuman, sertifikat dive, dan perlindungan asuransi jiwa.

Waktu penjemputannya pukul 07.30 waktu setempat.

Catatan:
Layanan transfer hotel hanya berlaku untuk wisatawan yang menginap di hotel area Kuta, Legian, Tuban, Seminyak, Nusa Dua, dan Sanur. Di luar kawasan tersebut kamu akan dikenai tambahan biaya.