Parasailing berasal dari kata parachute dan sailing. Jadi tubuh kamu akan diikat pada sebuah parachute dengan dua buah harness (tali kekang). Kemudian, dengan sutas tali, parachute tersebut dikaitkan pada sebuah speed boat yang akan menarik kamu dengan kecepatan tinggi. Tingginya kecepatan itu membuat parachute terangkat dan tubuhmu pun turut melayang ke udara. Kamu akan merasakan sensasi yang tak terlukiskan ketika berada di ketingginan 100 meter di atas permukaan laut di mana badan hanya terikat pada dua buah harness. Beberapa orang yang pernah mencobanya mengatakan ada perasaaan ngeri bercampur takjub menyelimuti perasaannya. Cobalah! Selengkapnya »
Film “Lampion-lampion” yang mengisahkan kehidupan masyarakat Desa Lampu di Kabupaten Bangli, memenangi lomba pada Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. Film dokumenter karya Dwitra J. Ariana yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli itu mengisahkan kehidupan bertoleransi masyarakat suku Bali dan suku Tionghoa yang sudah berjalan turun temurun. Di desa tersebut, kedua suku tersebut hidup berdampingan secara rukun. Keduanya saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Selengkapnya »
Setelah sempat ditutup dari segala aktivitas wisata (terutama di air) karena ombak dan angin cukup kencang, Pantai Kuta, Bali, dibuka kembali untuk para wisatawan yang ingin berenang maupun beraktivitas lainnya.
“Sekarang cuaca sudah cerah, jadi kami buka kembali” kata Kepala Satgas Pantai Kuta I Gusti Ngurah Tresna SH, sembari menerangkan bahwa sesungguhnya pantai telah dibuka hari Sabtu (14/2/2009) lalu.
Beberapa hari lalu, puncaknya pada tanggal Jumat (13/2), pantai Kuta dinyatakan tertutup bagi setiap orang, baik turis maupun warga setempat. Saat itu gelombang mencapai ketinggian sekitar 3 meter dan disertai angin yang bertiup sangat kencang. Situasi ini dinilai membahayakan pelancong yang berenang maupun berjemur di pantai.
Seperti telah benyak diketahui, pantai Kuta adalah pantai idola sebagian pelancong yang datang ke Bali. Setiap hari, ratusan pelancong datang menyambangi pantai berpasir putih yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya itu untuk mandi, berjemur, berpijat, bermain pasir, atau sekadar melihat-lihat pemandangan sambil melakukan manicure/padicure.
Meski hampir sepanjang tahun pantai ini selalu menyajikan situasi yang menyenangkan, namun ada saat-saat di mana pantai ini kurang menarik untuk didatangi, misalnya pada musim angin barat yang kerap mengakibatkan badai pasir atau mendamparkan ratusan sampah atau ikan di sepanjang pesisir.
Apa pun, pesona pantai Kuta selalu menawan dari masa ke masa..
Berita terkait:
Angin Kencang, Aktivitas di Pantai Kuta Ditutup

Angin kencang diikuti gelombang besar yang tak beraturan kemarin terjadi di kawasan pantai Kuta. Gelombang tersebut sangat berbahaya bagi pelancong yang mandi atau melakukan aktivitas air lainnya. Untuk menghindari risiko buruk, Balawisata dan Satgas Pantai Kuta melarang pelancong untuk melakukan kegiatan apa pun di dalam air.
Penyewaan papan surfing pun dilarang untuk menyewakan papannya untuk pelancong.
Tindakan tersebut diambil demi keamanan dan kenyamanan pengunjung sendiri.
“Mohon anda tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam air. Jika hendak berekresi, silahkan di pasir saja,” ucap Ketut Sudiana, Balawisata Pantai Kuta, melalui corong pengeras suara.