Asosiasi Sopir Pariwisata Bali

  • parade
  • sunset
  • tree
  • aspaba-bedugung-temple
  • aspaba-rice-terrace
  • aspaba-tanahlot

Tempat Belanja Suvenir di Bali

oleh aspaba · Info Belanja
No Comments »

Kuta, Legian, Seminyak, Jimbaran:

Gang Poppies
Poppies adalah nama jalan yang terdapat tepat di depan pantai Kuta. Di sekitar daerah tersebut banyak terdapat toko-toko yang menjual barang khas Bali seperti pakaian, sandal, tas, peralatan rumah tangga, suvenir, aksesoris dan bahkan buku impor dengan harga miring. Keluarkan seluruh jurus menawarmu dan dapatkan barang tersebut dengan harga yang sangat murah.

Kuta Square
Daerah ini pernah hancur akibat ledakan bom di tahun 2005, tapi kini bangkit kembali. Di sini banyak terdapat toko yang menjual barang bermerek terkenal. Banyak diskon yang ditawarkan hampir setiap hari. Di areal ini juga terdapat Matahari Departement Store yang juga menjual suvenir khas Bali. Kawasan belanja ini lebih cocok untuk kamu yang tidak telaten menawar. Harga yang ditawarkan di sini adalah harga normal yang wajar dan fixed.

Discovery Shopping Mall
Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Centro, satu sisinya menghadap jalan Kartika Plaza (tepat di depan waterbom), sisi lainnya langsung menghadap pantai Kuta. Barang yang ditawarkan hampir sama dengan barang yang terdapat di mall-mall. Bedanya, selesai belanja, kamu dapat menikmati indahnya sunset di sore hari.

Body & Soul
Tersedia bebagai koleksi fashion untuk anak muda.
Lokasi: Jln. Legian, Flagship Store Seminyak, Kuta Square, Discovery Mall, Factory Outlet Legian dan Seminyak.

Gemala Jewelry
Tersedia karya tangan perak, emas, dan permata. Kreasi orisinil di design oleh tim Gemala Jewelry.
Lokasi: Jln. Raya Seminyak

Uluwatu Handmade Balinese Lace
Koleksi pakaian cantik khas berwarna putih, katun, rayon sutera, bordiran Bali, yang sangat elegan.
Lokasi: Jln. Legian, Jln. Pantai Kuta, Jln. D Tamblingan-Sanur, Jln. Mongkey Forest Ubud.

Surfer Girl
T-shirt dan aneka pakaian unik berbagai warna yang sesuai untuk anak muda belia.
Lokasi: Jln. Legian 138,Kuta

Pasar Seni Kuta
Di sepanjang jalan di pasar seni ini, menawarkan berbagai pernak-pernik seni khas Bali dengan harga relatif murah.
Lokasi: Areal Kuta Center (dekat Matahari Shopping Mall Kuta Center)

Keramik Jenggala
Berbagai jenis keramik bergaya minimalis, kontemporer dengan warna – warna yang khas. Mau belajar membuat keramik atau mewarnai keramik, juga bisa.
Lokasi: Jln. Uluwatu II, Jimbaran, Kuta

Jalan Legian
Sepanjang Jalan Legian, kamu akan menemukan berbagi tempat belanja mulai dari toko kecil yang menjual pernak-pernik khas Bali hingga butik-butik ternama.
Lokasi: Sepanjang Jln. Legian

Ubud & Gianyar:

Gemala Jewelry
Tersedia karya tangan perak, emas, dan permata. Kreasi orisinil di desain oleh tim Gemala Jewelry.
Lokasi: Jln. Raya Pengosekan, Ubud

Pasar Seni Ubud
Berbagai barang seni seperti patung, kerajinan tangan, pernak-pernik, pakaian Bali,
Lokasi: Sentral Ubud

Desa Tegalalang
Desa Tegalalang adalah areal di mana para seniman Gianyar memasarkan pruduknya. Sepanjang jalan Desa Tegalalang terdapat berbagai barang kerajinan mulai dari interior, furniture, pernak-pernik khas Bali dan banyak lagi.
Lokasi: Desa Tegalalang

Sentral Ubud
Berjalan kaki menyusuri di pusat kota Ubud, kamu akan menemukan toko-toko yang menawarkan berbagai jenis barang kerajinan seperti perak, lukisan dari artis lokal, dan banyak lagi.
Lokasi: Sentral Ubud

Pasar Seni Sukawati & Pasar Seni Guwang
Kedua pasar seni ini memang diperuntukkan bagi para pedagang barang-barang seni dengan harga murah. Berbagai jenis barang seni dapat ditemukan di sini. Peraturan tak tertulis belanja di sini adalah: wajib menawar.
Lokasi: Desa Sukawati & Desa Guwang

Denpasar :

Erlangga Souvenir Shop
Disini banyak oleh-oleh kerajinan khas Bali dengan harga terjangkau. Tidak akan perlu tawar-menawar. Harga pasnya sudah murah. Di jalan yang sama terdapat dua toko Erlangga.
Lokasi: Jln. Nusa kambangan.

Krisna Souvenir Shop
Letaknya bersebelahan dengan toko Erlangga. Di sini juga tersedia oleh-oleh kerajinan khas Bali dengan harga murah. Tidak perlu tawar menawar, harga pasnya sudah murah.
Lokasi: Jln. Nusa Kambangan.

Titiles Food Processor
Sosis, dendeng dan berbagai jenis makanan yang telah di proses.
Lokasi: kota Denpasar (dekat Supermarket Tiara Dewata)

Jalan Sumatra
Makanan ringan khas Bali seperti kripik ceker ayam, salak Bali, kacang asin, dodol bungkus daun bambu.
Lokasi: Sepanjang Jalan Sumatra

Pasar Badung & Pasar Kumbasari
Menjual berbagai barang lokal mulai dari makanan hingga pakaian khas Bali dengan harga yang murah.
Lokasi: kota Denpasar

Toko Bog Bog
Menjual T-shirt, majalah kartun, mug, tas poster bergambar kartun. Di sini kamu bisa memesan gambar potret dalam gaya kartun. Bila ingin memberi surprise pada teman dengan mengoleh-olehi dia kartun dirinya, begitu tiba di Bali langsunglah menyerahkan foto temanmu itu sehingga pada saat pulang, kartun tersebut sudah siap kamu bawa. Harga dari Rp 200 ribu-Rp 350 ribu.
Lokasi: Jln. Veteran 34A, sekitar 800 meter dari jantung kota

Trik Belanja Murah di Bali

oleh aspaba · Info Belanja
No Comments »

Belanja merupakan satu rekreasi yang sengat menyenangkan di mana dan kapan saja. Dengan belanja kita menghibur dan memanjakan diri dengan memenuhi apa yang menjadi keinginan kita. Terlebih lagi saat berwisata. Pada saat itu kita memang benar-benar menyiapkan diri untuk sebisa-bisanya memanjakan diri, termasuk keinginan berbelanja. Masalahnya, antara keinginan dengan kemampuan memenuhi tidak selalu kompak. Keinginan selalu lebih besar dari pada kemampuan.

Di Bali begitu banyak barang-barang kerajinan yang ditawarkan. Kamu perlu kiat yang jitu untuk mengompromikan keinginan dan kemampuan yang sering bertentangan itu. Resep berikut bisa membantumu berbelanja murah di Bali.

1. Membuat daftar
Betapa pun kamu tetap harus membuat daftar, atau paling tidak, tahu persis apa yang ingin kamu beli. Selanjutnya, tentukan plafon anggaran yang akan kamu toleransi.

2. Mencari informasi
Carilah informasi sebanyak mungkin tentang tempat penjualan barang-barang yang ingin kamu beli. Informasi itu bisa kamu dapatkan dari berbagai sumber (internet, brosur, majalah wisata, atau masyarakat lokal). Jangan terlalu bersandar pada pemandu wisata untuk hal ini. Beberapa di antara mereka mengandalkan komisi dari artshop. Karena itu mereka cenderung mengantarkanmu ke tempat-tempat yangmemberi mereka komisi. Bukan ke tempat yang memberimu harga terbaik.

3. Carilah harga termurah
Di tempat-tempat wisata biasanya terdapat beberapa tempat yang menawarkan barang serupa. Asal tetap sopan, jangan malu untuk melihat-lihat kualitas barang dan menawar harganya serendah mungkin. Lakukan penawaran dengan tenang, tanpa menunjukkan kesan kamu sangat tertarik pada suatu barang. Ajukan harga penawaran setengah dari harga diajukan penjual, jangan lupa pasang senyummu. Senyum adalah mata uang juga, loh! Malah kalau bisa menawar dengan gaya humor. Humor sangat ampuh untuk menyairkan suasana di saat berbelanja.

Kalau nggak dikasih, pergi saja ke kios yang lain. Kalau penawaran kamu masih dianggap menguntungkan oleh pedagangnya, maka mereka akan memanggilmu dan menyerahkan barangnya seharga tawaranmu. Kalau nggak dipanggil lagi, artinya tawaran kamu terlalu rendah. Jadikan angka terendah yang ditawarkan oleh si pedagang sebagai patokan untuk menawar di tempat lain.

4. Tidak terburu-buru.
Bila tak punya cukup waktu untuk melihat-lihat, sebaiknya tidak usah berbelanja. Berbelanja musti dengan tenang. Kalau terburu-buru seringkali akan mendapat kekecewaan.

Fenomena Gunung Agung Bertedung

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Fenomena alam kerap kali terasa aneh dan menakjubkan. Datang dan perginya pun sering tak terduga. Begitu banyak fenomena hadir di muka bumi ini, dan manusia memaknainya dengan berbagai sudut pandang dan tafsir. Ada yang membacanya dengan kacamata ilmiah, ada pula yang melongoknya dari jendela mistis. Dari sudut mana pun kamu melihatnya, fenomena Gunung Agung bertedung awan yang terjadi pada hari raya Galungan ini sungguh memesona. Silahkan memaknai fenomena yang muncul di hari besar yang berentetan dengan hari raya dan upacara-upacara besar lainnya di Bali yakni Panca Bali Krama, Nyepi, Kuningan, Bhatara Turun Kabeh tersebut…

Foto Gunung Agung Bertedung di atas adalah pemandangan Gunung Agung yang diambil pada tanggal 18 Maret 2009 pukul 17.55 Wita oleh Jro Mangku Bagiartha dari perbatasan desa Pempatan-Suter, Kecamatan Rendang, dengan kamera ponsel.

Di bawah adalah foto-foto pemandangan Gunung Agung yang di ambil sebelum dan sesudah munculnya fenomena “Gunung Agung Bertedung” tersebut.

Foto ini dibuat oleh Maria Ekaristi pada tanggal 16 Maret 2009 pukul 08.55 Wita dari jalan Dalem Puri, desa Besakih, dengan kamera digital.

Foto ini dibuat oleh Jro Mangku Nyoman Artawan pada tanggal 18 Maret 2009 pukul 18.12 Wita dari pelataran Pesucian, sisi kiri Pura Penataran Agung, Besakih dengan kamera ponsel.

Sekadar catatan, menurut para Pemangku di Pura Agung Besakih, setiap kali ada upacara besar di pura tersebut, selalu ada fenomena menakjubkan yang terlihat di kawasan puncak Gunung Agung. Yang paling kerap adalah fenomena cincin awan melingkari kepundan gunung tertinggi di Bali itu.

Hindari Pemerasan oleh Oknum Guide Lokal Besakih

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Wisatawan yang berkunjung ke pura Besakih kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pemandu wisata lokal di kawasan tersebut. Selasa (26/5/2009) lalu, Pemerintah Kecamatan Rendang memberi teguran keras kepada lima orang pemandu wisata yang tergabung dalam kelompok guide khusus di Besakih karena ulahnya yang tak terpuji saat memandu wisatawan. Dengan caranya masing-masing, ke-lima pemandu tersebut melakukan pemerasan terhadap wisatawan asing.

“Jika tetap membadel, sanksi berikutnya adalah pencabutan lisensi sebagai pemandu wisata di sana ,” ucap Sekretaris Kecamatan Rendang, I Made Kusuma Negara.

Selama ini, para pelancong yang berkunjung di pura Besakih diharuskan membeli tiket seharga Rp. 8 ribu di loket yang letaknya di dekat pintu gerbang. Di depan loket tersebut berjaga beberapa petugas yang mengingatkan para pelancong yang memakai celana pendek di atas lutut untuk memakai kain sarung. Jika tidak membawa kain, oleh mereka disarankan untuk membeli atau mengenakan kain sarung milik petugas di sana. Sarung tersebut satu paket dengan pemandu wisata yang akan mengantarkan pelancong itu berkeliling melihat-lihat keunikan pura terbesar di Bali tersebut. Dari loket tadi, para pelancong masih harus berjalan menanjak sekitar satu kilometer untuk mencapai Pura Besakih. Bagi yang tidak kuat, dapat memanfaatkan fasilitas ojek.

Nah, jarak yang jauh dan ketidaktahuan pelancong inilah yang kerap menjadi ruang bagi para pemandu wisata yang nakal untuk melakukan pemerasan. Misalnya, meminta tambahan fee setelah mengajak tamu tersebut berkeliling.

Kusuma Negara mengimbau agar wisatawan yang merasa dirugikan oleh pemandu wisata local di sana untuk segera melaporkan kepada petugas kepolisian yang bertugas di sana. Saat melaporkan, minta identitas petugas yang menerima laporan tersebut. Dengan demikian, paparnya, keluhan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan cepat dan akurat.

“Selama ini sejumlah tamu yang komplin sering menyampaikan setelah lewat beberapa hari, sehingga begitu hendak dikonfrontasikan tamu tersebut sudah siap kembali ke negaranya,” tandas Kusuma Negara.

Saat ini guide khusus Besakih berjumlah 285 orang setiap harinya. Mereka terbagi dalam empat shift yang masing-masing terdiri 50 orang. Menurut aturan resmi, sebagai petugas yang wajib melayani wisatawan, para pemandu tersebut memperoleh fee sebesar Rp 2.400 dari tiket masuk Rp 10 ribu untuk wisatawan asing dan Rp 8 ribu untuk wisatawan domestik. Namun, kenyataan di lapangan para pemandu tersebut meminta fee sebesar Rp. 30 ribu kepada wisatawan.

Kunjungan wisatawan ke kawasan Pura Besakih saat ini menjukkan peningkatan dari 19.379 orang pada hingga April 2008 menjadi 64.624 orang pada April 2009.

Tip Berwisata ke Besakih:
Bawa kain sarung sendiri, kenakan saat hendak masuk ke kawasan pura.
Siapkan pengetahuanmu tentang pura Besakih sebelum melancong ke sana.
Jika hendak menggunakan jasa pemandu wisata, tanyakan terlebih dahulu apakah mereka akan mengenakan biaya tambahan.
Saat melakukan tawar menawar itu, buat foto untuk mengetahui dengan siapa kamu bernegosiasi.
Bila hendak menggunakan ojek, lakukan tawar menawar. Tarif ojek saat ini berkisar antara Rp. 15 ribu hingga Rp. 25 ribu.
Jika ada hal yang membuatmu kecewa, segera laporkan di pos polisi terdekat. Tunjukkan foto yang kamu buat sebelumnya untuk memudahkan pengidentifikasian.

Upacara Mapepada di Pura Manik Mas Besakih

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Pura Manik Mas, salah satu pura di kompleks Pura Besakih, baru saja usai dipugar. Untuk menyucikan pura tersebut agar dapat digunakan sabagai sarana persembahyangan, pura tersebut ‘diresmikan’ kembali melalui upacara Pamelaspas, Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih. Serangkaian dengan itu, hari Minggu (15/2/2009) lalu diselenggarakan upacara Mapepada Tawur yaitu upacara penyucian hewan-hewan yang akan digunakan sebagai kurban dalam upacara.

Upacara Mapepada Tawur ini dipimpin oleh Ida Pedanda Wayahan Tianyar dari Griya Menara, Sidemen – Karangasem diikuti oleh para Pemangku Pura Agung Besakih, umat dari Pemaksan Ulun Kulkul dan dari kabupaten Jembrana selaku pangempon (penyokong) pura ini.

Pada upacara Mapepada ini yang disucikan adalah kambing sebagai wewalungan (binatang persembahan) utama. Kambing tersebut disucikan, didoakan dan diiringkan melakukan purwa daksina (berkeliling tiga kali searah putaran jarum jam). Selanjutnya, pada kambing tersebut dilakukan prosesi malepas prani atau peleburan arwah dengan menusukkan secara simbolis tombak keramat ke tubuhnya.

 

 

Melasti Panca Bali Krama, Diperkirakan 1500 Orang

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Ritual Melasti ke pantai Klotok, Klungkung akan menjadi satu perhelatan besar dalam rangkaian upacara Panca Bali Krama, yaitu ritual keagamaan yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali di Pura Besakih. Melasti adalah upacara penyucian Pratima (benda-benda sakral simbolisasi kekuasaan Tuhan) yang dilakukan di pantai. Ritual ini akan diselenggarakan tanggal 21, 22 dan 23 Maret 2009 dan diperkirakan akan diikuti oleh tak kurang dari 1500 umat. Mereka akan berjalan kaki sambil mengusung Pratima dari pura yang terletak di lambung Gunung Agung itu menuju pantai Klotok yang berjarak sekitar 40 kilometer.

Dari Klotok, iring-iringan akan menginap semalam di Pura Penataran Agung, Klungkung. Keesokan harinya iring-iringan berangkat menuju Besakih melalui jalur desa Paksebali, berisitirahat sejenak di Pura Tohjiwa lalu melanjutkan perjalanan melalui jalur Sidemen dan menginap semalam di Pura Puseh Tebola, Sidemen , Karangasem.
Tanggal 23 Maret iring-iringan berangkat menuju Pura Besakih melalui jalur desa Selat melewati Toya Esah. Setelah memasuki kawasan Besakih, Pratima akan disambut dengan ritual Pesandekan dan Pamendak Alit (penyongsongan kecil) di Pura Pasimpangan Besakih. Setelah itu lanjut menuju Pura Penataran Agung Besakih.

Setiba di halaman depan Pura Penataran Agung Besakih, Pratima akan disambut dengan ritual Pamendak Agung (penyongsongan besar) bersamaan dengan penyongsongan Ida Bhatara Tirtha, air suci dari Sad Kahyangan (enam pura utama) Bali, Gunung Semeru, Gunung Agung dan Gunung Rinjani yang prosesinya dilakukan oleh rombongan lain sehari sebelum ritual Melasti.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, upacara agung Panca Bali Krama akan berlangsung selama 42 hari yang pelaksanaannya secara resmi akan dimulai pada 25 Februari 2009.

Upacara Sepuluh Tahunan di Pura Besakih

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Penduduk Bali sebagian besar beragama Hindu yang memiliki berbagai upacara ritual yang unik dan penuh pesona. Hampir setiap hari di pulau yang dijuluki ‘pulau seribu pura’ ini dapat dijumpai acara ritual untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta, yang ketiganya mereka sebut dengan Tri Hita Karana. Satu di antara sekian banyak ritual itu adalah upacara Panca Bali Krama yang di selenggarakan di Pura Besakih setiap 10 tahun sekali.

Setelah upacara Panca Bali Krama yang diselenggarakan pada tahun 1999, kini masyarakat Hindu Bali menyelenggarakan kembali upacara tersebut yang puncaknya jatuh pada tanggal 25 Maret 2009.

Rangkaian upacara Panca Bali Krama tahun ini sudah dimulai dengan ngakuagem (pernyataan kesiapan) di pura Penataran Agung Besakih, Senin (12/1) lalu. Sementara ritual nuasen karya (menetapkan hari-hari baik rangkaian upacara), mohon air suci dan penyucian alam dan diri dilaksanakan di Pura Dalem Puri Besakih pada hari Minggu (25/1).

Setelah puncak upacara pada tanggal 25 Maret 2009, upacara terus dilaksanakan selama sebulan hingga pelaksanaan penyineban (upacara penutupan) pada tanggal 24 April 2009.

Perang Tanpa Benci di Bulan Juni

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Hampir seluruh perang di muka bumi ini dilakukan dengan semangat bermusuhan. Sorot mata orang-orang yang terlibat dalam perang selalu menyiratkan dendam dan kebencian terhadap kelompok yang dihadapinya. Hanya di desa Tenganan di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, terjadi perang yang dilakukan dengan wajah ceria di antara orang-orang yang saling berhadapan. Meski kulit tubuh mereka robek dan berdarah oleh lawan, mereka tetap tersenyum kepadanya.

Perang macam apa itu? Itulah tradisi Perang Pandan yang dalam bahasa setempat disebut Mekare-kare. Perang ini adalah atraksi khas masyarakat Tenganan, sebuah desa yang terletak di belahan timur Pulau Bali, sekitar 75 kilometer dari Kuta. Setiap tahun, tradisi perang pandan ini dilakukan selama dua hari, biasanya pada pertengahan bulan Juni.

Perang ini dilakukan oleh para pemuda Tenganan. Saat perang mereka mengenakan kain adat Tenganan dan bertelanjang dada. Senjata mereka adalah seikat daun pandan berduri dan sebuah perisai dari anyaman rotan untuk melindungi diri. Bagi masyarakat Tenganan yang dikenal sebagai masyarakat Bali Aga (Bali Asli), perang pandan bukanlah atraksi untuk mencari kalah-menang, melainkan merupakan bagian dari ritual pemujaan kepada Dewa Indra yang dipuja sebagai dewa perang. Sebelum perang digelar, acara diawali dengan dengan ritual upacara mengelilingi desa untuk memohon keselamatan. Setelah perang usai, acara ditutup dengan persembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan menghaturkan tarian sakral yang disebut Rejang. Jadi, laga yang dilakukan hingga saling menggucurkan darah itu adalah bentuk penghormatan bagi Sang Dewa.

Pemujaan terhadap Dewa Indra ini bermula dari kepercayaan masyarakat bahwa berabad-abad silam wilayah Tenganan dicengkram oleh seorang penguasa yang kejam dan lalim bernama Maya Denawa. Raja bengis tersebut tidak hanya memperlakukan rakyat secara semena-mena, bahkan menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Ia memerintahkan begundalnya untuk membunuhi siapa pun yang berani melakukan ritual keagamaan.

Menyaksikan perilaku Maya Denawa itu, para dewa di surga pun murka. Selanjutnya mereka mengutus Dewa Indra untuk memimpin pertempuran melawan si raja lalim. Melalui pertempuran sengit, Maya Denawa dapat dilumpuhkan dan Dewa Indra lalu tampil sebagai penggantinya.

Jika ingin melihat dari dekat bagaimana perang pandan berlangsung, bersiaplah untuk hadir di Tenganan pada pertengahan bulan Juni mendatang.

Sate Gurita, ‘Menendang’ Bumbu di Rongga Mulut

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Bagi para pecinta ‘wisata lidah’ sajian sate dari daging sapi, kambing, ayam, bebek, babi, kelinci, atau ikan tentu sesuatu yang biasa. Tapi sate gurita, mungkin merupakan sesuatu yang istimewa. Ya, di Bali, sate gurita memang tergolong istimewa. Selain karena rasanya, tentu karena ketersediaan bahan bakunya yang langka.

Di seantero Bali, tak banyak ditemui warung atau rumah makan yang menyediakan sate gurita. Satu di antara yang sedikit itu adalah Warung Mek ‘D’ yang terletak di jalan raya antara Kota Karangasem dan Pantai Tulamben. Persisnya di Dusun Labasari, Desa Abang, Karangasem, Bali. Di warung itu, tidak hanya sate yang tersedia melainkan juga rawon gurita. Dan, penganan ini sudah disajikan oleh Ni Made Ririp, sang pemilik warung, sejak lebih dari sepuluh tahun.

Sepintas sate gurita yang disajikan tampak seperti sate ikan biasa. Bentuk dan ukurannya nyaris tak ada bedanya. Tapi, begitu anda mencobanya, anda akan mendapatkan sensasi rasa yang sangat berbeda. Dalam baluran bumbu rempah-rempah,rasa daging gurita menyerupai daging cumi-cumi terasa begitu nikmat. Di dalam mulut, kekenyalan daging gurita yang khas seolah menendang bumbu yang lezat itu ke kiri-ke kanan sehingga seluruh rongga mulut dapat merasakannya.

Sepintas, tampilan dan rasa bumbu sate gurita Made Ririp persis dengan bumbu Sate Padang. Bumbu itu berbasis tepung dan aneka rempah yang selain terasa gurih juga ‘membunuh’ rasa amis pada gurita.

Sementara untuk rawon gurita, cara memasak dan bumbunya serupa dengan rawon daging sapi yang banyak di jual di mana-mana.

Untuk keperluan membuat sate dan rawon gurita, setiap harinya Ririp membeli lima hingga delapan gurita segar berukuran sedang atau besar. Masing-masing gurita beratnya sekitar 2 kilogram hingga 3 kilogram.

“Jadi, setiap hari diperlukan sekitar 30 kilogramlah,”ujar Ririp.

Gurita-gurita tersebut, menurut Ririp, merupakan hasil tangkapan nelayan di wilayah Karangasem dan Buleleng.

Untuk membuat sate gurita, mula-mula daging gurita segar direbus hingga matang. Setelah didinginkan daging itu dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi bambu. Setiap tusuk terdiri dari empat potong daging gurita. Setelah itu, barulah daging tersebut dipanggangdi atas bara api.

Oleh Ririp satu porsi sate (juga rawon) gurita ‘dibandrol’ seharga Rp 15 ribu. Itu sudah termasuk nasi putih dan tambahan pepes ikan.

O, iya, letak Warung ‘D’ milik Rirp ini sekitar 94 kilometer dari Kuta. Jauh? Mungkin saja, jika anda hanya mencari sate itu dari Kuta. Tetapi jika anda menyatukannya dengan program kunjungan ke pantai Tulamben, maka itu akan sekali jalan.

Bagaimana jika anda tak punya rencana ke Tulamben, tetapi menginginkan sate gurita? Tenang! Anda dapat memperolehnya di sebuah gerai di Pasar Bulan, Batubulan, Gianyar. Sekitar 14 kilometer dari Kuta. Letaknya persis di sebelah timur Sahadewa Barong Dance, wahana yang menampilkan tari kecak dan barong secara regular setiap hari. Jadi, anda dapat menikmati sate gurita sebelum menonon barong.

Jika pertunjukan mulai pukul 09.30, datanglah ke Batubulan pukul 08.00 untuk sarapan dengan lauk sate gurita. Untuk satu porsi terdiri dari delapan tusuk sate gurita, anda cukup merogoh kocek sebesar Rp5 ribu. ***

Perjalanan ke Bali Timur dari Sisi Selatan

oleh aspaba · Karangasem
No Comments »

Hampir seluruh lekuk pantai dan desa di pulau Bali menarik untuk dikunjungi, termasuk yang terdapat di bagian timur pulau ini. Di wilayah yang termasuk dalam kabupaten Karangasem itu terdapat antara lain obyek wisata Tengangan, Candidasa, Taman Tirta Gangga, Istana Ujung, Pantai Tulamben, pantai Amed, dan banyak lagi. Berikut ini adalah gambaran rute, jarak dan waktu tempuh dari Kuta menuju pantai Amed atau Tulamben, dua pantai yang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya.

Perjalanan ini ditempuh dengan mobil dalam kecepatan sedang (rata-rata 60 km per jam) melalui jalan bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Jika kamu berangkat dari Kuta, melalui jalan bypass Simpang Siur, kamu memerlukan waktu 30 menit untuk tiba di pintu jalan bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, kamu akan tiba
di perempatan Pantai Lebih. Jika ingin mampir di pantai ini untuk sarapan, kamu tinggal belok kanan sekitar 25 meter ke arah pantai. Di sana kamu bisa menyantap menu sea food sambil menikmati pemandangan pantai.

Dari pantai lebih, terus melaju ke arah timur, dalam waktu kurang lebih 15 menit kamu akan tiba di Pura Goa Lawah. Kamu bisa singgah di sana sejenak untuk melihat-lihat keunikan pura yang berada di depan goa besar yang dipenuhi dengan ribuan kelelawar. Di depan pura kamu bisa membeli beberapa souvenir dengan harga yang tak terlalu mahal. Tapi ingat, adakan tawar menawar sebelum menyepakati harganya.

Dari Pura Goa Lawah, perjalanan dilanjutkan lagi. Dalam 10 menit kamu akan tiba di pertigaan (traffic light) Pelabuhan Padang Bai. Jika ingin mampir, silakan. Sekadar informasi, pemandangan di sana cukup menarik. Namun nuansa pelabuhannya yang lebih kental terasa. Beberapa kilo meter dari pertigaan tersebut terdapat obyek wisata menyelam. Namanya Bloo Lagoon. Kalau kamu masuk ke sana, bisa jadi perjalananmu hari itu terhenti di sana. soalnya, pantai di sana punya daya tarik untuk melakukan snorkeling. Alamdan ikan-ikan hias di perairan tersebut indah dan beragam.

Katakanlah kalian lanjut, dalam 14 menit kamu akan tiba di pertigaan Manggis. Cirinya ada tugu berbentuk buah manggis di pertigaan tersebut. Ikuti saja jalan utama, lima menit kemudian kamu akan tiba di pertigaan Tenganan. Tenganan adalah sebuah desa kuno di Bali. Orang menamakannya desa Bali Aga. Kalau kamu mau berkunjung ke desa tersebut, berbeloklah ke kiri sekitar satu kilometer. Jalan yang kalian lalui akan berujung pada jalan buntu persis di depan gerbang desa tua tersebut. parkirkan mobilmu di dekat situ dan masuklah dengan berjalan kaki.

Dari Tenganan, perjalanan berlanjut. Dalam waktu sekitar 32 menit kalian akan tiba di pertigaan pantai Amed. Kalau kamu memilih Pantai Amed, kamu tinggal berbelok ke kanan sekitar 13 kilometer. Kalau kamu memilih pantai Tulamben, kamu harus melanjutkan perjalanan sekitar 14 kilometer lagi yang dapat kalian tempuh dalam waktu hanya 14 menit saja. Dalam perjalan ke sana, kamu akan melewati jalan-jalan berkelok dengan pemandangan alam yang indah.