Asosiasi Sopir Pariwisata Bali

  • parade
  • sunset
  • tree
  • aspaba-bedugung-temple
  • aspaba-rice-terrace
  • aspaba-tanahlot

Joged-joged Bali

oleh aspaba · Tari Bali
No Comments »

Joged adalah tari pergaulan yang sangat populer di Bali. Tari ini memiliki pola-pola gerak yang bebas, lincah, dan dinamis. Gerak-gerak dasar tari ini diambil dari Legong maupun Tari Kekebyaran, dan dibawakan secara improvisasi. Joged biasanya dipentaskan untuk perayaan sehabis panen atau pada acara hiburan pada hari-hari penting di Bali.

Tari Joged mempunyai banyak macam, meliputi: Joged Bumbung, Joged Pingitan, Joged Gebyog, Joged Pudengan (Udengan), dan Gandrung. Kecuali Joged Pingitan yang memakai lakon Calonarang, semua pertunjukan Joged selalu ditarikan secara berpasangan laki-perempuan dengan mengundang partisipasi penonton untuk ngibing. Bagian tersebut dinamakan paibing-ibingan. Pada bagian tersebut, penari Joged memilih (nyawat) penonton laki untuk diajak menari bersama di arena pentas.

Sebagai sebuah kesenian rakyat, tari Joged diiringi dengan barungan ngamelan yang didominasi oleh instrumen-instrumen bambu.

Di antara semua jenis Joged yang ada di Bali, Joged Bumbunglah yang paling populer di Bali. Joged yang diiringi grantangan yaitu gamelan tingklik bambu berlaras slendro ini diperkirakan muncul pada tahun 1946 di Bali Utara.

Sumber: “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali” oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia

Barong-Barong Bali

oleh aspaba · Tari Bali
No Comments »

Barong adalah satu di antara begitu banyak ragam seni pertunjukan Bali. Barong merupakan sebuah tarian tradisional Bali yang ditandai dengan topeng dan kostum badan yang dapat dikenakan oleh satu atau dua orang untuk menarikannya. Di Bali ada beberapa jenis barong yakni Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Landung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Lembu, Barong Kedingkling, Barong Kambing, dan Barong Gagombrangan.

Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan. Barung ini juga memiliki pebendaharaan gerak tari yang paling lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket merupakan perpaduan bentuk antara singa, macan,sapi dan naga. Badan Barong Ket dihiasi dengan kulit berukiran rumit dan ratusan kaca cermin berukuran kecil. Kaca-kaca cermin itu bagai permata dan tampak berkilauan ketika tertimpa cahaya. Bulu Barong Ket terbuat dari kombinasi perasok (serat daun tanaman sejenis pandan) dan ijuk. Ada pula yang mengganti ijuk dengan bulu burung gagak.

Barong Ket ditarikan oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk atau Juru Bapang. Juru Bapang pertama menarikan bagian kepala, Juru Bapang yang lainnya di bagian ekor. Biasanya Barong Ket ditarikan berpasangan dengan Rangda, yaitu sosok seram yang melambangkan adharma (keburukan). Barong Ket sendiri dalam tarian tersebut melambangkan dharma (kebajikan). Pasangan Barong Ket dan Rangda melambangkan pertempuran abadi andara dua hal yang berlawanan (rwa bhineda) di semesta raya ini. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.

Barong Bangkal adalah barong yang menyerupai babi dewasa. Di Bali, babi dewasa jantan dinamakan bangkal, sedangkan yang betina dinamakan bangkung. Itu sebabnya barong jenis ini disebut juga dengan Barong Bangkung. Biasanya Barong Bangkal dipentaskan dengan cara ngelelawang atau menari dari pintu ke pintu berkeliling desa pada saat perayaan hari raya Galungan-Kuningan. Barong ini ditarikan oleh dua orang penari dengan iringan gamelan batel/tetamburan.

Barong Landung adalah barong yang sosoknya menjulang tinggi. Sosoknya menyerupai manusia dengan tinggi dua kali tingga badan orang dewasa. Sosok laki-lakidinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Konon, barong jenis dibuat untuk mengelabui mahluk-mahluk halus yang menebar bencana.

Masyarakat Bali percaya bahwa mahluk-mahluk halus tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Mecaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang berstana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Saat itu, seorang pendeta sakti menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Rupanya, tipuan ini manjur. Para mahluk halus ketakutan melihat bentuk tiruan bos mereka, lalu menyingkir. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana.

Barong Landung ditarikan oleh seorang. Ada sebuah lubang di bagian perut barong sebagai celah pandangan sang penari. Di beberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang tak hanya sepasang. Barong-barong tersebut diberi peran seperti Mantri (raja), Galuh (permaisuri), Limbur (dayang) dan sebagainya. Musik pengiring tarian Barong Landung adalah gamelan Batel.

Melihat Barong Landung, kamu mungkin teringat dengan Ondel-ondel. Ya, barong ini sangat mirip dengan tarian khas Betawi itu.

Seperti namanya, barong ini menyerupai seekor macan. Jenis barong ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Bali. Pementasan barong ini sama dengan barong bangkal, yakni ngelawang berkeliling desa. Adakalanya pementasan barong ini dilengkapi dengan dramatari semacam Arja (opera tradisional Bali). Barong macan ditarikan oleh dua penari dengan iringan musik gamelan batel.

Barong Kedingkling disebut juga Barong Blasblasan. Ada juga yang menyebutnya barong Nong nong Kling. Secara bentuk, barong jenis ini berbeda jauh dengan barong jenis lainnya. Barung ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh-tokoh dalam barong Kedingkling persis dengan tokoh-tokoh dalam Wayang Wong. Saat menari, cerita yang dibawakannya pun adalah lakon cuplikan dari cerita Ramayana terutama pada adegan perangnya.

Pementasan barong kedingkling ini biasanya dilakukan dengan ngelawang dar rumah- ke rumah berkeliling desa pada perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Pertunjukan Barong Kedingkling diiringi dengan gamelan batel atau babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong). Barong Kedingkling banyak terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung.

Barong Gajah tentu saja menyerupai gajah. Barong ini ditarikan oleh dua orang. Karena barong ini termasuk jenis yang langka dan dikeramatkan, masyarakat Bali pun jarang menjumpai barong jenis ini. Sekali waktu, pada saat-saat khusus, barong ini dipentaskannya secara ngelewang dari pintu ke pintu berkeliling desa dengan iringan gamelan batel atau tetamburan. Barong Gajah terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli.

Barong Asu menyerupai anjing. Sama seperti Barong Gajah, Barong Asu juga termasuk jenis barong yang langka. Barong ini hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.

Kamu termasuk orang yang beruntung jika sempat menyaksikan pementasan barong ini. Barong Brutuk termasuk jenis tarian langka yang ditarikan hanya pada saat-saat khsusus. Barong ini memiliki bentuk yang lebih primitive dibandingkan dengan jenis barong Bali yang lain. Topeng barong ini terbuat dari batok kelapa dan kostumnya terbuat dari keraras atau daun pisang yang sudah kering. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci (para pengiring Ida Ratu Pancering Jagat) yang berstana di Pura Pancering Jagat, Trunyan. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan, yang masing-masing
membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura.

Barong yang ditarikan dengan iringan gamelan Balaganjur atau Babonangan ini hanya terdapat di daerah Trunyan-Kintamani, Bangli. (abe/jjb/dari berbagai sumber)

Jadwal Pementasan Tari Bali

oleh aspaba · Tari Bali
No Comments »

Saat berlibur di Bali dan ingin menikmati pementasan tari Bali, jadwal di bawah ini dapat kamu jadikan acuan untuk menentukan pilihan.

Barong dan Tari Keris
• Arma Museum – Ubud, Jumat 17.30
• Banjar Abasan Singapadu – Gianyar, Setiap hari 09.30-10.30
• Banjar Suwung Kauh – Denpasar, Setiap hari 09.30-10.30
• Depan Pura Padang Kerta – Ubud, Senin 19.00
• Kesiman Stage – Denpasar, Setiap hari 09.30-10.30
• Padang Galak Stage, Setiap Hari 09.30-10.30
• Pura Dalem Ubud – Ubud, Kamis 19.30
• Ubud Water Palace – Ubud, Kamis 19.30
• Sila Candra Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Sahadewa Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Denjalan Stage – Batubulan, Sukawati, Setiap hari 09.00 – 10.00
• Banjar Abasan Singapadu, setiap hari 09.30 – 10.30

Kecak
• Arma Open Stage – Ubud, Setiap Bulan Purnama, 19.00
• Art Center “Werdhi Budaya” Jl. Nusa Indah – Denpasar Setiap hari 18.30-19.30
• Banjar Bona Kangin – Gianyar Setiap Senin, Rabu & Jumat: 18.00-19.30
• Depan Pura Padang Kerta – Ubud, Selasa 19.30
• Desa Baha Mengwi – Badung, Sesuai Permintaan
• Junjungan Village – Ubud, Senin 19.00
• Padang Tegal – Ubud, Rabu, Sabtu, Minggu 19.00
• Pura Batukaru, Kamis 19.30
• Pura Dalem Taman Kaja – Ubud, Rabu 19.30
• Pura Dalem Ubud – Ubud, Jumat 19.30
• Pura Taman Sari – Ubud, Kamis 19.30
• Pura Uluwatu- Badung, Setiap Hari 18.00-19.00
• Puri Agung Peliatan – Ubud, Kamis 19.30

Tari Legong
• Arma Open Stage – Ubud, Minggu 19.30 (Master Tari Legong Peliatan)
• Balerung Stage – Ubud, Selasa 19.30
• Desa Peliatan – Ubud, Jumat, Sabtu 19.30
• Desa Ubud– Ubud, Senin, Rabu, Kamis, Minggu 19.30 (khusus Minggu: Legong Mahabarata)
• Peliatan Stage, Peliatan- Ubud, Jumat 18.30-19.30
• Pura Dalem Puri – Ubud, Sabtu 19.30
• Pura Desa Kutuh- Ubud , Kamis 19.30
• Pura Taman Sari – Ubud, Minggu 19.30
• Puri Agung Peliatan – Ubud, Setiap Minggu 19.30-21.00
• Puri Kaleran Peliatan – Ubud, Selasa 19.30
• Puri Saren-Ubud, Setiap Minggu 19.30-21.00
• Taman Sari Stage – Ubud, Rabu 19.30

Sendratari Arjuna Tapa
Jaba Pura Desa Kutuh Ubud, Senin 19.30

Tari Ciwa Ratri
Pura Dalem, Puri Ubud, Senin 19.30

Ramayana Ballet
Ubud Palace – Ubud, Selasa 19.30

Wayang Kulit
• Monkey Forest – Ubud, Selasa 20.00
• Oka Kartini Desa Tebesaya, Peliatan-Ubud, Rabu, Jumat, Minggu 20.00
• Puri Kaleran Peliatan, Sabtu 19.30

Tari Topeng
Arma Museum, Rabu 19.00
Penjor Restaurant – Sanur, Setiap Sabtu 20.15

Tari Genjekan
Banjar Sangeh – Badung, Sesuai Permintaan

Tari Kodok
Pura Padang Kerta – Ubud, Rabu 19.00; Sabtu 19.30

Jegog
Pura Dalem Ubud, Rabu 19.00
Bentuyung Village – Ubud, Jumat, Minggu 19.00

Tari Calonarang
Desa Mawang – Ubud, Kamis, Sabtu 19.00

Tari Gabor
Ubud Kelod, Ubud, Setiap Kamis 19.30

Janger
Ubud Water Palace – Ubud, Minggu 19.30
Penjor Restaurant – Sanur, Jumat 20.15

Tari Tektekan (Puri Night: Tari dan Santap Malam Tradisional)
Puri Anyar Kerambitan Tabanan, Sesuai Permintaan

Leko & Drama Janger
Puri Anyar Kerambitan Tabanan, Sesuai Permintaan

Drama Tari Bimanyu
Panca Arta, Ubud, Setiap Kamis 20.00

Mahabaratha
Br.Teges- Peliatan, Selasa 18.30-20.00

Tari Raja Pala
Ubud Kelod – Ubud, Selasa 19.30-20.00

Tari Calonarang
Hotel Menara Jln. Raya Ubud – Gianyar (0366-977080), Jumat 20.00

Ramayana
Ubud Kelod, Ubud, Setiap Rabu 1930-21.00

Tari Kodok
Penjor Restaurant – Sanur, Setiap Minggu 19.00

Parwa Ramayana
Hotel Menara Jln. Raya Ubud – Gianyar (0366-977080), Selasa, Rabu 19.00
Br. Buni Kuta, Senin, Kamis 20.00
Ubud Kelod – Ubud, Rabu 19.30

Joged Bungbung
Penjor Restaurant Sanur, Rabu 20.15

Drama Tari Raja Pala
Ubud Kelod-Ubud, Selasa 19.30 – 20.00

Tari Bali

oleh aspaba · Tari Bali
No Comments »

Masyarakat Bali tidak bisa dipisahkan dengan tarian. Hampir setiap kegiatan keagamaan, selalu disertai tarian. Bagi orang Bali, tarian adalah persembahan sebagaimana mereka mempersembahkan sesajen.

Secara garis besar, tari Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu tari wali (tari sakral), tari bebali (tari pertunjukan untuk upacara) dan tari balih-balihan (tari untuk hiburan)

Yang tergolong tari wali antara lain Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede. Yang tergolong bebali antara lain Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong. Sedangkan tari balih-balihan antara lain Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari moderen lainnya.

Tari legong
Tari Legong adalah sebuah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks. Gerakan-gerakan tersebut terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari tari gambuh. Kata Legong berasal dari kata leg yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai.

Dalam perkembangannya, legong berkembang menjadi legong kraton. Tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condong sebagai pembuka tarian. Dalam situasi lain, tari legong dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari lgong ini adalah pemakaian kipas para penarinya.

Tari barong
Barong adalah karakter dalam mitologi Bali. Ia merupakan raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan yang merupakan musuh keburukan yang simbolkan dengan Rangda.

Barong yang paling popular adalah barong ket yang bentuknya seperti singa. Barong ini berasal dari Gianyar, daerah di mana berbagai kesenian Bali berpusat. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.

Tari kecak
Tari ini diciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak dan pelukis Jerman Walter Spies. Tari ini merupakan mengembangan tari Sanghyang (sakral) yang diberi muatan kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Sebagian besar penari Kecak adalah laki-laki. Para penari duduk melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” sambil mengangkat kedua lengannya. Ini pasukan kera yang membantu Rama mengalahkan Rahwana yang menculik istrinya, Dewi Sinta.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rhama, Shinta, Rahwana, Hanoman, Jatayu, dan tentu saja Rahwana si durjana.

Tari oleg tambulilingan
Tari Oleg Tambulilingan adalah tarian yang mengisahkan seorang putri yang sedang bersolek mempersiapkan diri menanti kedatangan kekasih. Tari ini mengumpamakan sepasang kekasih tersebut sebagai pasangan sekuntum bunga dan seekor kumbang.

Seperti biasa penari wanita Bali, maka pakaian yang dikenakan adalah yang U-can-C, alias keliatan ketiak dan dan bahunya. Ditambah lenggang-lenggok dan kerlingan matanya yang menantang dengan sedikit sunggingan senyum.

6 Ribu Koleksi Album Lagu Lawas Milik Gus Campur

oleh aspaba · Musik Bali
No Comments »

Oleh: Maria Ekaristi

Ini memang bukan obyek wisata. Tapi rumah di Jalan Imam Bonjol nomor 16A Denpasar ini menarik untuk anda singgahi. Terutama jika anda pengamat, kolektor atau penggemar berat musik. Soalnya, di salah satu ruangan rumah asri ini tersimpan 6 ribu koleksi kaset, LD, CD, VCD dan DVD dari musisi-musisi lawas kelas dunia seperti Pink Floyd, Deep Purple, Queen, Beatles, Jimmy Barnes, KISS, Joe Satriani, Joe Cockers, Johnny Winter, Van Hallen, Steve Vai, Dakota, Jeff Beck, Rainbow, Led Zeppelin, dan lainnya.

Koleksi lagu-lagu lawas milik Ida Bagus Udayana ini tergolong sangat lengkap. Maklum, semua koleksi tersebut ia kumpulkan satu demi satu sejak tahun 1976! Hingga kini Gus Campur, begitu Udayana akrab disapa, masih terus berburu CD, DVD grup-grup kawakan. Ia tak memilih genre musiknya. Entah Rock, Rock N Roll, Art Rock, Hard Rock, Blues, Country atau Golden Memories, semua ia buru dan kumpulkan. Untuk melengkapi pengetahuan dan kenangan mengenai grup atau penyanyi tersebut, Gus Campur juga mengoleksi poster-poster mereka.

Kini, sembari berolahraga setiap hari, lelaki kelahiran 18 Desember 1961 tersebut selalu memutar satu-persatu koleksinya. Bila anda kolektor, pengamat music atau penggemar musik lawas dan ingin berkenalan dengan Gus Campur, silahkan kontak ke telepon nomor (0361) 488995. Saya yakin, salah satu lagu favorit anda pasti terselip di antara koleksi Gus Campur itu.

Tihingan, Desa Pembuat Ensambel Musik Bali

oleh aspaba · Musik Bali
No Comments »

Oleh : Agung Bawantara

Satu di antara sekian daya tarik Bali adalah ensambel musiknya yang khas. Ensambel dengan suara unik dan kaya ragam tersebut dinamakan gamelan. Itulah musik pengiring berbagai jenis seni pertunjukan, ritual dan acara-acara penting lainnya di Bali. Jenis gamelan yang terbuat dari bahan logam kerawang tersebut antara lain Semara Pegulingan, Gender, dan Angklung (Kelentangan). Dari mana alat musik itu di dapat? Tentu saja dari desa-desa pembuat gamelan yang sangat sedikit jumlahnya di Bali. Satu di antara sedikit desa tersebut adalah Desa Tihingan di Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Di desa Tihingan pembuatan gamelan dikerjakan mulai dari tenaga kasar sampai tenaga ahli yang khusus untuk menyelaraskan nada-nada gamelan tersebut. Di situ terdapat dua kelompok pandai gamelan (masyarakat kerap menyebutnya pande gong) yang sangat berpengalaman. Hampir seluruh perangkat gamelan di Bali diproduksi oleh kedua kelompok tersebut.

Desa Tihingan terletak sekitar tiga kilometer kea rah barat pusat kota Semarapura. Dari obyek wisata Kertha Gosa atau Monumen Puputan Klungkung, anda dapat mencapainya baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, dalam waktu kira-kira sekitar delapan menit saja ke arah barat mengikuti jalan utama. Tiba di simpang lima yang di tengahnya ada patung Dewi Saraswati, teruslah ambil jalan lurus mengarah ke arah Barat.

Meski sangat berperan selama berabad-abad terhadap keberlangsungan kesenian di Bali, Desa Tihingan tidak ditempatkan pada posisi penting dalam kepariwisataan Bali. Karena itu hingga kini desa tersebut belum dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai sebagai obyek wisata. Tidak ada WC umum, kios souvenir, kios makanan dan minuman, penginapan dan areal parkir khusus di situ.

Saat ini pelancong yang datang ke desa ini adalah mereka yang sengaja berkunjung ke desa Tihingan karena berminat dengan perangkat gamelan untuk dibawa ke negerinya. Pengunjung lain adalah rombongan yang menyediakan paket wisata alternatif yakni mengunjungi tempat-tempat menarik yang tak lazim dikunjungi para pelancong pada umumnya.

Untuk membuat satu set gamelan lengkap (biasa disebut satu barung) yang terdiri dari jegogan, jublag, pemada, kantil, reong, tawa-tawa, dan kempur, diperlukan waktu sekitar tiga bulan. Harga satu barung gamelan mencapai hingga Rp 200 juta, bahkan lebih. Sepasang kendang (perkusi) yang melengkapi ensambel tersebut didapatkan dari pengrajin khusus yang terdapat di banyak desa lain di luar Desa Tihingan.

Gamelan Angklung, Si Selendro yang Melankolis

oleh aspaba · Musik Bali
No Comments »

Oleh: Agung Bawantara

Ini adalah jenis alat musik tradisional Bali yang berlaras selendro. Di beberapa tempat gamelan ini dikenal dengan sebutan Angklung Kelentungan. Jenis gamelan ini menghasilkan nada sendu dan melankolis. Gamelan ini tergolong barungan madya atau orkestrasi sedang yang dimainkan oleh 11-25 pemusik. Sebagai pembanding, barungan ageng atau orkestrasi besar dimainkan oleh lebih dari 25 pemusik.
Orkestrasi ini dibentuk oleh instrumen berbilah dan pecon dari krawang (sejenis campuran logam), Kadang-kadang ditambah juga angklung bambu kocok yang berukuran kecil. Gamelan ini dibuat dengan ukuran-ukuran yang relatif kecil sehingga mudah dipanggul dan dimainkan sambil mengiringo sebuah prosesi. Di Bali Selatan, gamelan ini hanya mempergunakan empat nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan lima nada.

Berdasarkan konteks penggunaan dan materi tabuhnya, jenis angklung dapat dibedakan menjadi tabuh angklung klasik (tradsional) yang dimainkan untuk mengiringi prosesi upacara (tanpa tari-tarian) dan angklung kebyar yang dimainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun drama. Satu barung (kelompok) Gamelan Angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali mereka mempergunakan gamelan yang sama.

Di kalangan masyarakat luas, gamelan ini dikenal sebagai pengiring upacara-upacara kematian (Pitra Yadnya) seperti Ngaben. Bahkan, di sekitar Kota Denpasar dan beberapa tempat lainnya, penguburan jenazah warga Tionghoa pun kerap diiringi dengan Gamelan Angklung. Namun, di beberapa daerah, Gamelan Angklung menggantikan fungsi gamelan Gong Gede untuk mengiringi upacara di pura (Dewa Yadnya) dan upacara-upacara lainnya.

Dalam satu barung, instrumental Gamelan Angklung terdiri dari jegogan, jublag, pemada, kantil, reong, kendang, tawa-tawa, dan kempur. Angklung Kebyar tidak mempergunakan kempur, tetapi gong.

Nama-nama tabuh yang umum dikenal di kalangan pemain angklung antara lain: Asep menyan, Capung manjus, Capung Ngumbang, Dongkang Menek Biu, Gowak Maling Taluh, Sekar Jepun, Berong, Sekar Ulat, Glagah Katunuan, Jaran Sirig, Kupu-kupu tarum, meong Megarong, Pipis Samas, Sekar Sandat, dan Cecek Magelut. Sedangkan tabuh-tabuh angklung kebyar sama dengan yang dipakai dalam Gong Kebyar.

Sumber: Buku “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali” karya Prof. Dr. I Wayan Dibia dan beberapa sumber lainnya.
Foto : http://farm1.static.flickr.com/31/103002205_1edaead23c.jpg

Wrdhi Cwaram, Orkestra Seruling dari Padang Sambian

oleh aspaba · Musik Bali
No Comments »

Dalam musik Bali, seruling sangat jarang ditempatkan sebagai instrumen utama yang berdiri sendiri. Bahkan dalam musik Gambuh yang terdiri dari banyak seruling (dengan ukuran yang panjang dan besar) pun instrumen ini dipadukan dengan instrumen lain untuk membuat sebuah komposisi tertentu. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh kelompok seni “Werdhi Cwaram”, Padang Sambian- Denpasar, mereka menggunakan seruling sebagai alat instrumen utama untuk menyuguhkan berbagai komposisi.

Kebolehan memainkan komposisi dengan aneka seruling tersebut mereka pertontonkan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), Selasa 16 Juni 2009. Di depan puluhan pengunjung yang mengitari pelataran Gedung Kriya, mereka memainkan gending “Liar Samas” dan “Kempyung”, dua komposisi klasik karya maestro karawatian I Wayan Lotring. Biasanya, kedua komposisi tersebut dibawakan dalam barungan gamelan (orkestrasi Bali lengkap), namun malam itu disuguhkan hanya dengan seruling. Untuk memunculkan timbre dan warna suara yang berbeda, orkes seruling tersebut menggunakan beberapa jenis seruling dengan panjang dan diameter yang berbeda-beda.

Selain memainkan gending klasik, kelompok seni yang dipimpin oleh I Ketut Widianta ini juga memainkan komposisi kreasi baru karya musisi Bali I Wayan Yudana yang berjudul “Petingan Mati Manakan” . Komposisi ini dipilah menjadi tiga bagian quintet (double quartet). Materi bunyi disusun dengan teknik klasik-modern yang penuh kombinasi.

Komposisi lainnya, berjudul “Baskara” karya W. Ary Wijaya, juga menyajikan garapan komposisi klasik-modern yang menawan. Sayangnya, pertunjukan manis ini tak dilengkapi dengan penataan dekorasi panggung dan penataan lampu yang menunjang mood gending-gending yang dimainkan. (abe/jjb)

Musik di Bali

oleh aspaba · Musik Bali
No Comments »

Seperti terhadap tarian, orang Bali juga tak bisa dipisahkan dari musik. Bagi orang Bali, musik dan tembang pun adalah persembahan. Karenanya di berbagai upacara selalu digelar musik-musik tradisional Bali dengan irama dan ritmenya yang khas.

Selain musik tradisonal, musik modern pun berkembang baik di Bali. Di Bali pernah lahir grup musik Rock Harley Angels yang dikomandani oleh Putu Indrawan. Grup ini, pada tahun 1985 memenangi festival musik Rock se Indonesia. Pada eranya, mereka sangat terbiasa bermain bersama musisi-musisi rock top dunia macam Mick Jagger yang datang ke Bali secara diam-diam.

Saat ini, terutama di daerah Kuta, Legian dan Seminyak, banyak terdapat club yang menyajikan secara berkala pertunjukan musik rock secara live. Grup rock yang saat ini ngetop di Bali antara lain Superman Is Dead, The Wheels, Navicula, XXX .

Selain Rock, aliran musik lain yang marak di Bali adalah Jazz, Reggae, Blues, Classic Disco. Di Bali banyak tersedia kafe-kafe yang menampilkan musik Jazz. Bahkan di Bali telah terbentuk Bali Jazz Forum yang mempertmukan para penggemar, musisi dan artis Jazz, serta kalangan jurnalis an event organizer. Selain mengadakan pergelaran, forum ini juga memprakarsai klinik jazz untuk anak SMA yang dilakukan secara berkala setiap hari minggu.

Di kawasan Kuta, Legian, Seminyak hampr setiap malam dapat kamu temukan pertunjukan live music dengan berbagai aliran: Rock, Jazz, Blues, Reggae, Classic Disco. Ada juga yang menampilkan musik pop dan Top 40.

Trik Menawar di Pasar Seni/Kios Kerajinan di Bali

oleh aspaba · Info Belanja
No Comments »

Saat berlibur, di sela-sela waktu mengunjungi obyek wisata atau menikmati hiburan, biasanya kita isi dengan kegiatan berbelanja souvenir entah berupa T-Shirt, aksesoris, barang kerajinan, dan lain sebagianya. Di Bali, selain di beberapa pasar seni, hampir di setiap obyek wisata kamu dapat menemukan kios-kios yang menawarkan barang-barang tersebut. Dan, semua barang yang dijual tersebut dibandrol dengan harga yang masih sangat layak kamu tawar.

Berikut adalah trik menawar barang di pasar seni atau di kios-kios tersebut:
•Tentukan barang pilihanmu terlebih dahulu
•Tanyakan harga
•Tawar setengah dari harga yang diajukan sambil tersenyum. Senyum adalah mata uang juga, loh!
•Biasanya pedagang akan meminta kamu untuk menaikkan harga tawaranmu sembari dia sendiri mengajukan harga yang lebih rendah.
•Naikkan penawaranmu setahap demi setahap.
•Kalo nggak dikasih, pergi saja ke kios yang lain. Kalau penawaran kamu masih dianggap menguntungkan oleh pedagangnya, maka mereka akan memanggilmu dan menyerahkan barangnya seharga tawaranmu. Kalau nggak dipanggil lagi, artinya tawaran kamu terlalu rendah
•Jadikan angka terendah yang ditawarkan oleh si pedagang sebagai patokan untuk menawar di tempat lain.